Mahfud MD Menjadi Menteri di Saat Sulit

Mahfud MD dan Gus DurRupanya sosok Gus Dur sangat menarik seorang Mohammad Mahfud MD. Boleh jadi Gus Dur di mata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini adalah seorang guru sekaligus teman. Sehingga ia menuliskan buku berjudul Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit.

Misalnya di halaman pertama buku ini, terbaca: “Masih selalu terbayang di mata dan tergiang di telinga, saat-saat engkau memberi petuah tanpa menggurui, saat engkau mengajak canda tanpa menyinggung perasaan, saat engkau mengajak menghayati visi kebangsaan tanpa paksaan.”

Kedekatan Mahfud MD dengan Gus Dur, sebenarnya tidaklah seperti yang dibayangkan orang. Dalam buku ini, jelas sekali mantan Menteri Pertahanan (Menhan) di masa Gus Dur ini sebenarnya lebih banyak mengenal Gus Dur lewat tulisan, ceramah dan pemberitaan di media massa. Jadi Mahfud baru mengenal Gus Dur ketika ia masih duduk di bangku kuliah.

“Ada jutaan orang yang mengenal Gus Dur dengan cara seperti itu,” ungkapnya. Namun, tambahnya, “Belum tentu dikenal oleh Gus Dur”. Dan dirinya awalnya adalah salah seorang dari jutaan orang tersebut.

Mahfud MD bertemu secara fisik dengan Gus Dur hanya dua atau tiga kali di forum ilmiah, 16 tahun sebelum dirinya diangkat menjadi menteri. Dan dia yakin bahwa setelah pertemuan itu Gus Dur ‘melupakannya’, karena pertemuaan itu dianggap adalah pertemuan biasa.

Tapi pada 22 Agustus 2000, Gus Dur selaku Presiden mengumumkan pengangkatan dirinya sebagai Menhan. Maka banyak orang yang mulai bertanya, siapa Mahfud ini, dan seberapa dekat dirinya dengan Gus Dur, sehingga ia diangkat menjadi Menhan?

Pertanyaan inilah yang juga menjadi pertanyaan Mahfud dalam bukunya ini. Kenapa dirinya yang hanya baru dua atau tiga kali bertemu dengan Gus Dur akhirnya ‘dipanggil’ untuk menjadi bawahannya langsung?

Buku ini memang banyak berbicara tentang ‘sepak terjang’ Gus Dur dari perspektif Mahfud. Dan boleh jadi akibat nyelenehnya Gus Dur itulah dirinya ‘masuk’ dalam dunia politik yang belum dikenalnya secara praktis sama sekali (hlm. 8).

Di halaman-halaman awal ini, Mahfud menceritakan pengalaman bagaimana dirinya mendapat telepon dari istana, yang tidak disangka-sangka, karena memang ia merasa bukan siapa-siapa, layaknya seorang yang sedang bermimpi. Akhirnya ia harus terbangun dan sadar bahwa itu bukan mimpi.

Sangat menarik sekali apa yang ditulis dalam buku ini, begitu mengalir, dan tanpa terasa pembaca seolah-olah dibawa menemani dirinya untuk menemui sang Presiden Gus Dur.

Pengangkatannya sebagai Menhan mendapat reaksi keras, karena dia memang tidak dikenal dalam persoalan pertahanan. Dia hanya seorang akademisi. Reaksi keras juga meluncur dari Amien Rais. Awalnya ia ingin mundur. Tetapi akhirnya ia menerima jabatan tersebut, hingga diganti oleh koleganya Matori Abdul Jalil pada masa Presiden Megawati.

Selain berbicara tentang pertemuan dan pengangkatan Gus Dur kepadanya, Mahfud juga menulis tentang kesan-kesannya terhadap Gus Dur. Terutama tentang dasar pertimbangan atau sumber informasi yang biasa digunakan Gus Dur. Menurut Mahfud, keghaiban kerapkali memengaruhi pernyataan atau sikap-sikap bahkan keputusan Gus Dur.

Untuk menghadapi persoalan yang serius, sumber informasi Gus Dur bisa terdiri dari laporan dan analisis staf, informasi media massa, informasi dari masyarakat khususnya LSM, informasi langit dan pemahaman Gus Dur sendiri atas informasi itu (hlm. 192).

Walau buku ini berbicara tentang Gus Dur, tetapi bukan berarti buku ini hanya menceritakan tentang ‘ikatan batin’ antara Mahfud dan Gus Dur saja. Banyak hal yang bisa diambil manfaatnya. Boleh jadi kita bisa mendapat manfaat dari apa yang ditulis Mahfud tentang Gus Dur sendiri, dan bisa juga kita mendapat manfaat dari sosok Mahfud MD sendiri, yang merupakan salah seorang warga negara yang saat ini pernah berkiprah dalam tiga institusi yang berbeda. Yakni sebagai eksekutif, legislatif dan kini duduk di lembaga yudikatif.

Apa pun kata orang tentang Gus Dur, tampaknya Gus Dur bagi Mahfud adalah ‘lentera’ demokrasi di negeri ini. Jadi tidak ada salahnya Anda membaca buku ini untuk menambah referensi perbendaharaan hidup Anda. (analisadaily)

Judul Buku : Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit
Peresensi: Ali Murthado, Direktur Lembaga Baca Tulis (eLBeTe)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 26/07/2013, in Buku and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: