Memoar Mahfud MD bersama Gus Dur

Gus-Dur-Islam,Politik-KebanSudah diketahui umum, bahwa kedekatan Gus Dur dengan Mahfud MD sangat erat. Keduanya merupakan episentrum utama dalam meretaskan kebebasan dan penegakkan demokratisasi di Indonesia. Namun, mangkatnya Gus Dur, pada 30 Desember 2009, agaknya memberi kesan mendalam bagi pribadi yang juga menjadi penjaga gawang aras konstitusi ini.

Berawal dari permintaan “mendadak” yang dilayangkan kala Mahfud MD masih menjadi guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. Tak tanggung-tanggung, Gus Dur yang saat itu menjadi presiden menunjuknya menjadi Menteri Pertahanan (Menhan). 

 

Tentu hal itu membuatnya terperanjat. Apalagi ketiadaan pengalaman dalam hal militer menjadi dalih. Pun latar belakang dirinya yang hanya seorang akademisi.  Ketika ditanyakakan ihwal itu, Gus Dur hanya berkelakar, “Saya sendiri tidak punya latar belakang menjadi presiden. Tapi bisa kok.”

Di situ, penulis buku ini memberikan analisis berbeda. Dirinya yang notabene orang sipil diminta untuk merapikan militer, dan mengembalikannya pada posisi yang sebenarnya sebagai pengayom sipil. Termasuk juga mendemoralisasi militer dari hegemoni politik seperti yang dilakukan Orde Baru.

Kedekatan keduanya terlihat, misalnya, ketika menengok pelbagai pemikiran beliau yang acapkali dianggap nyeleneh. Ketika banyak orang mencibir tentang kegemaran bapak pluralisme itu berkeliling dunia, Mahfud menjelaskan bahwa hal itu memang yang dibutuhkan bangsa ini. Guna mencegah disintegrasi, dan semakin menguatnya separatisme kala itu. Tentunya hal demikian yang saat itu memang harus dilakukan untuk mempertahankan NKRI.

Hobinya Silaturrahmi

Ibarat teks, maka Gus Dur merupakan teks terbuka yang memungkinkan terjadinya anasir dan tafsiran yang beragam atas pelbagai spektrum pemikirannya yang memang sangat luas. Pada titik ini, Mahfud mencoba mendedahkan salah satu kegelisahannya atas sepak terjang lelaki yang terkenal dengan guyonannya itu, dalam bentuknya yang paling sederhana. Yakni, manusia biasa yang memiliki hobi silaturrahmi dan kecerdasan melihat situasi politik.

Silaturrahmi ini juga yang menjadi kekuatannya sebagai pemimpin. Hingga membuatnya dicintai rakyat hingga kalangan akar rumput. Lain halnya ketika melihat para politisi saat ini, yang yang seakan enggan untuk sekedar saling menyapa. Bahkan ketika bersua harus diikuti dengan muatan politis yang menyelimuti tiap geraknya. Akibatnya, silaturahmi hanya menjadi lahan kontestasi politik. Bukan sebagai medium persaudaraan dan persahabatan.

Di level tata kelola pemerintahan, Gus Dur mampu mendesakralisasi istana kepresidenan, serta menjadikannya istana rakyat. Karena Istana Presiden yang harusnya menjadi tempat bagi rakyat untuk mengadu berbagai persoalan bangsa itu telah disalah tafsirkan Orde Batu. Istana menjadi tempat angker, penuh formalitas, dan tidak bersahabat bagi rakyat jelata. Hingga sekedar mengadu pun mereka tidak berani.

Hal yang paling menggelitik barangkali adalah ketika tarjadi dualisme kepemimpinan di tubuh PKB antara Yenny Wahid dan Muhaimain Iskandar. Bagi Mahfud, silang sengkarut itu sebenarnya jatuh pada pertanyaan fundamental, siapa pemegang otoritas sebagai anak ideologis Gus Dur? Menurut Mahfud keduanya pantas dianggap pemegang titah penerus pemikiran Gus Dur.

Di sisi yang lain, Yenny yang merupakan alumnus Havard University, agaknya lebih unggul. Karena tidak hanya sebagai anak ideologis Gus Dur. Tapi, lebih dari itu, perempuan yang juga aktivis HAM itu merupakan anak biologis yang tentunya mengikuti sejak kecil bagaimana ayahnya menerapkan pandangan ideologisnya di tengah masyarakat dan keluarga. Itu merupakan modal lebih untuk menjadi pemimpin di masa depan (hal 173).

Renik gagasan dan eskalasi pemikiran tentang sosok yang kerap menjadi sasaran para jurnalis karena sikapnya yang kontroversial itu, tertuang dalam buku “Gus Dur – Islam, Politik dan Kebangsaan” yang memercikkan memoar relasinya dengan Gus Dur dalam empat dekade berbeda dalam kehidupannya. Yakni ketika menjadi Menteri Pertahanan, Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Anggota DPR RI, serta saat menjadi ketua Mahkamah Konstusi (MK).

Buku ini hadir dengan gaya bertutur yang santai, agak kelakar namun tetap kritis dan bernas dengan pelbagai muatan filosofisnya. Hingga seakan mampu menjadi manifestasi pertalian ideologis antara kedua negarawan ini. Pun menjadi simbol bahwa perjuangan menegakkan demokratisasi akan terus menyala walau sang guru bangsa telah pergi.

Gus Dur: Mahfud ini akan Jadi Negarawan

“Terus terang saya bangga pernah menjadi salah seorang teman atau santri Gus Dur, karena oleh publik saya dianggap ‘dekat’ dengan orang sebesar Gus Dur itu. Gengsi saya terasa naik oleh anggapan itu.” (Mahfud MD)

“Di mata Gus Dur, pak Mahfud adalah satu di antara sedikit intelektual NU yang sangat dibanggakannya. Selain karena memiliki integritas, Gus Dur sangat hormat karena pak Mahfud memiliki wawasan Islam yang terbuka dan konsisten terhadap cita-cita kebangsaan. ‘Dialah Kang’, kata Gus Dur suatu hari kepada saya, ‘Mahfud ini akan jadi seorang negarawan yang dibutuhkan bangsa ini.’ Insya Allah.” (Dr. Moeslim Abdurrahman)

“Mungkin sampeyan akan mengatakan saya terlalu romantis, tapi sungguh saya merindukan keakraban seperti dulu …  Kini saya bahkan seperti tak mengenali sampeyan lagi: Mas Dur yang demokrat sejati, Mas Dur yang berpikiran jauh ke depan, Mas Dur yang tak peduli terhadap jabatan, Mas Dur yang mencintai sesama, Mas Dur yang begitu perhatian terhadap umat, Mas Dur yang terbuka, Mas Dur yang penuh pengertian…” (KH. A. Mustofa Bisri, alias Gus Mus)

“Kedekatan Gus Dur dengan pak Mahfud dipertemukan oleh kesamaan, minimal dalam dua hal. Pertama, keduanya sama-sama nekat dan tidak takut mengungkap ketidakadilan dan menabrak ketidakberesan. Kedua, Gus Dur dan pak Mahfud sangat kompak dalam pandangan mengenai paham kebangsaan serta hubungan antar negara dan agama menurut NU. Gus Dur memahami cara berpikir pak Mahfud dan pak Mahfud selalu mau belajar dari Gus Dur.” (Yenny Wahid)

Judul : Gus Dur; Islam, Politik, dan Kebangsaan
Penulis : Mahfud MD
Penerbit : LKiS Jogjakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : xii+268 hal.
Peresensi : Dedik Priyanto
Sumber: wahidinstitute.org

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 02/08/2013, in Buku and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: