Gus Dur Tidak Khawatir dengan Pemimpin Wanita

KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)Di zaman sekarang, wanita bisa saja memimpin negara. Kaum pria dan ulama tak perlu takut atau khawatir dengan adanya pemimpin wanita, karena di zaman sekarang tidak ada kepemimpinan yang bersifat personal. Anggapan bahwa suatu negara akan hancur kalau dipimpin wanita pun hanya berlaku di zaman lampau.

Hal itu dikatakan Ketua Umum PB NU, KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) pada Halal bihalal Ulama-Pengurus NU se-Jatim dan Bursa Efek Surabaya, di aula gedung PDAM Jl. dr Moestopo, Minggu (17/3/1996).

Gus Dur mengambil contoh Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto, yang pada awal berkuasa sempat diresahkan sebagian ulama di Pakistan. Benazir, menurut Gus Dur, tidak memimpin Pakistan secara perseorangan. “Jadi buat apa dikhawatirkan?” katanya.

Benazir punya kabinet yang mayoritas terdiri atas kaum pria. Selain itu, segala keputusannya harus disetujui lebih dulu oleh parlemen, yang juga mayoritas kaum pria, dan harus diundangkan lebih dulu.

Pelaksanaan keputusan pun masih diawasi Mahkamah Agung, yang hakim-hakim agungnya semua laki-laki. “Jadi kalau ada wanita yang memimpin negara, ia hanya merupakan salah satu yang memimpin negara. Tidak sendirian ia memimpin negara,” kata Gus Dur.

Ia pernah bertemu sekelompok ulama besar Pakistan pada awal-awal Benazir menjadi Perdana Menteri. Ulama yang paling sepuh, waktu itu menyatakan kekesalannya dan tak bisa menerima terpilihnya Benazir. Para ulama itu takut akan terjadi malapetaka di kalangan muslim Pakistan kalau negaranya dipimpin wanita. Ulama menunjuk Hadis Nabi yang menyebutkan bahwa akan muncul bencana kalau wanita memimpin.

“Saya jawab, kami di Indonesia lain,” kata Gus Dur. Hadis itu dirumuskan Nabi untuk masyarakat zaman beliau. Saat itu suku-suku di jazirah Arab sedang getol-getolnya berperang, saling jarah, menawan musuhnya, dan sebagainya.

Pemimpin suku saat itu juga bertindak sebagai pemimpin perang, kehidupan sehari-hari, peradilan, membuat hukum, dan sebagainya. “Dengan kata lain, semua kekuasaan di tangan seorang dan kepemimpinan saat itu sifatnya personal,” kata Gus Dur.

Dalam pemerintahan seperti itu, Gus Dur menambahkan, wanita memang tidak sesuai menjadi pemimpin. “Fisiknya terlalu lemah. Bayangkan, tak mungkin kan wanita memimpin perang di garis depan? Zaman itu kan begitu aturannya. Beda dengan sekarang, kalau ada perang, jenderalnya di markas dan yang di depan serdadunya. Karena itu, hadis tersebut bisa dikatakan tak berlaku lagi,” kata cucu pendiri NU itu.

Ia menjelaskan, kaum ulama di Indonesia punya tafsiran yang lebih modern dan realistis dibanding di Pakistan. Boleh jadi, ulama Pakistan lebih hafal Al-Qur’an, menguasai kitab-kitab, dan lebih hebat penampilan keulamaannya. “Tapi semangat keulamaannya kalah mumpuni dibanding ulama Indonesia dalam menghadapi zaman yang berubah,” kata Gus Dur. (surabaya post)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 28/08/2013, in Kisah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: