Mahfud MD Masih Punya 4 Opsi dalam Pilpres 2014

Mahfud MD punya 4 opsi

Mohammad Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi,  akhirnya urung mengikuti kontes calon presiden meski pun sempat datang ke Wisma Kodel tempat pelaksanaan konvensi Partai Demokrat. Namun demikian dia mengaku masih punya 4 opsi untuk maju dalam pemilihan Presiden 2014 mendatang. 

“Saya tidak mundur karena tidak pernah menyatakan ikut. Jadi saya menolak ikut,” kata Mahfud MD, kepada Sindo Weekly, beberapa waktu lalu.

Adapun alasan Mahfud MD menolak ikut karena beberapa hal. Pertama, menurutnya hak dan kewajiban peserta konvensi tidak jelas. Kedua, kesannya pada waktu itu, konvensi diobral. Siapa saja yang mau ikut dipasang, tanpa ukuran yang jelas. Sehingga muncul berbagai nama yang tidak jelas.  “Alhasil, enggak jelas ini pertandingan kelas apa,” imbuhnya.

Mahfud MD menyampaikan pandangan dan alasannya menolak konvensi dengan gamblang. Walau begitu, dia menghormati langkah Partai Demokrat yang mencari calon jagoannya untuk bertarung pada pemilihan presiden lewat konvensi.

“Saya tetap menghormati konvensi. Ini terobosan luar biasa untuk mengatasi kemacetan Konstitusi mencari calon alternatif,” jelasnya.

Kenapa anda mundur dari konvensi?
Ada salah informasi di publik bahwa saya seakan-akan mundur dari konvensi. Saya tidak mundur karena tidak pernah menyatakan ikut. Jadi saya menolak ikut.

Kenapa penolakan Anda sampaikan langsung di hadapan Komite?
Karena saya diundang. Kalau tidak datang, kan saya tidak sopan. Saya diundang baik-baik, diberi surat, dan ditelepon.

Lantas kenapa Anda menolak?
Pertama, hak dan kewajiban tidak jelas. Misalnya, saya menang tapi Partai Demokrat kalah sehingga harus mencari koalisi. Lalu apa dan siapa yang melaksanakan itu. Siapa yang melakukan negosiasi dengan partai lain atau saya dilepas begitu saja.

Kedua, kesannya, pada waktu itu, konvensi diobral. Siapa saja yang mau ikut dipasang, tanpa ukuran yang jelas. Sehingga muncul berbagai nama yang tidak di-tracking. Alhasil, enggak jelas ini pertandingan kelas apa.

Karena tak ada ukuran objektif, kriteria umum mengenai moral dan cacat hukum disederhanakan begitu saja. Ini kan memilih calon presiden bukan mencari juru kampanye. Tapi saya tetap menghormati konvensi. Ini terobosan luar biasa untuk mengatasi kemacetan Konstitusi mencari calon alternatif.

Jadi bagaimana Anda menilai 11 calon yang ada sekarang?
Saya tidak akan menilai calon yang ada sekarang. Tidak etis. Itu terserah saja.

Apa Anda menanyakan semua itu kepada Komite?
Saya sudah menanyakan tetapi tidak pada forum prakonvensi. Saya pernah bertemu dua orang anggota Komite di sebuah hotel. Mereka bilang Komite tidak bisa menjamin. Komite tidak punya wewenang sampai ke sana. Komite hanya mengantarkan. Menyangkut penetapan akhir dan tentang koalisi, kata mereka, itu bukan urusan Konvensi. Saya kira calon lain juga tidak mendapatkan penjelasan tentang itu. Paling hanya diberi tahu soal mekanisme.

Tapi Komite sudah menjamin 100 persen partai tak akan ikut campur?
Tapi mana ketentuan tertulis tentang itu. AD/ART partai kan menyatakan itu (Majelis Tinggi berwenang menentukan calon presiden). Tapi sebenarnya ada yang lebih substansial daripada itu. Itu kan lebih teknis. Hasil diskusi saya dengan para gurubesar dan kiai, hal yang lebih substansif adalah tentang kimia politik dan paham perjuangan.

Maksud kimia politik?
Pertama, kimia politik jejak rekam yang bersih. Kedua, kimia politik Muslim moderat Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang kental darah NU-nya.

Kenapa NU?
NU itu darah politiknya nasionalis-relijius dengan warna khusus Aswaja. Semua partai mengaku nasionalis-relijius tapi NU nasionalis-relijius yang menganut moderasi dalam Islam. NU tegas menyatakan pro-Indonesia bukan pro-negara Islam. Ada partai nasionalis-relijius tapi pro-negara Islam.

Partai mana yang memiliki kimia politik seperti itu. Tampaknya sulit?
Tidak malah lebih mudah daripada saya menyatakan ikut konvensi dan dikurung sampai Mei. Alternatifnya sekarang malah semakin banyak.

Apa saja?
Saya tidak perlu menyebutkan itu. Pokoknya ada empat alternatif. Kalau ikut konvensi, alternatif justru hanya satu: menang atau kalah dalam kurungan.

Menurut Anda konvensi itu seharusnya seperti apa?
Sebenarnya gagasan awal konvensi Pak SBY ideal karena beliau menyebut “primary election”. Itu bagus dan berbeda dengan konvensi. Kalau konvensi, yang menentukan calon adalah partai. Kalau primary, yang menentukan adalah rakyat atau konstituen. Artinya, Demokrat meminta rakyat memilihkan calon presiden. Ide bagus tapi proses seeded-nya kemudian enggak jelas sehingga menjadi tidak karuan.

Masih yakin dapat tiket?
Saya yakin. Di depan saya ada empat opsi dan sedang dikerjakan oleh tim saya.

Apa mau duet dengan Jokowi?
Ya mungkin, dengan Jokowi, dengan koalisi, dengan PKB, bahkan mungkin juga menempel dengan partai yang sudah punya calon presiden, mengapa tidak.

Nomor dua enggak masalah?
Saya ingin nomor satu tapi boleh nomor dua dan boleh juga tidak jadi apa-apa. Bahkan saya bisa menjadi tim sukses asal visi si calon cocok. Tapi kalau disuruh memilih, saya tentu ingin nomor satu karena saya punya visi sendiri: menjadikan hukum sebagai panglima. (okezone)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 07/09/2013, in Berita and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: