Mahfud MD – Siap Dipenggal Bila Terima Suap

Mohammad Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), mengaku siap dipenggal apabila benar-benar menerima suap seperti yang dituduhkan calon bupati yang kalah pada Pemilu Kepala Daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara, Irwan H Daulay. Mahfud mengaku siap mengganti uang Rp3 miliar seperti yang dituduhkan Irwan H Daulay saat ini juga.

“Hari ini juga saya akan ganti, saya punya uang Rp6 miliar, rumah, atau mobil. Kalau benar saya terima, saya akan ganti. Saya (siap) potong tangan dan potong leher,” kata Mahfud di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin lalu.

Namun Mahfud mengancam balik Irwan H Daulay. Ia mengaku siap memidanakan Irwan H Daulay dengan tuduhan pencemaran nama baik. “Kalau tidak, saya lakukan langkah hukum. Silakan Pak Daulay laporkan saya,” ujar Mahfud.

Mahfud mengaku sudah mengkroscek tuduhan ia menerima suap yang dilaporkan Daulay ke KPK. “Saya datang ke Dumas, ternyata sampai hari ini enggak ada itu pengaduan. Jadi berita itu bohong, jadi yang sampaikan berita soal itu bohong,” kata Mahfud.

Mahfud Md Tidak Pernah Bela Akil

Mahfud MD menyatakan pernah melaporkan koleganya Akil Mochtar ke KPK lantaran dituduh menerima suap dalam sengketa pemilihan kepala daerah Simalungun oleh Refly Harun, pengacara.

Namun, laporan itu tidak diproses KPK sehingga dia meyakini Akil bersih dari korupsi. “Karena tidak ada bukti saat itu. Saya menyatakan dia bersih sampai saya keluar,” ujar Mahfud saat menyambangi KPK, Senin lalu.

Mahfud menegaskan laporannya ke KPK menunjukkan bahwa dia tidak pernah membela Akil semasa dirinya menjabat Ketua MK. Dia mengaku malah mendorong agar Akil diproses hukum bila terbukti menerima suap. “Laporan saya ke KPK untuk Akil masih ada di sini. Tidak pernah saya bela Akil,” katanya.

Mahfud menambahkan, ia siap bekerja sama bila penegak hukum ingin mengusut kembali kasus-kasus lama yang diduga melibatkan Akil. “Saya akan fasilitasi.”

Akil Jadi Target Pengawasan KPK Sudah Lama

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar jual-beli putusan sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi (MK). Ada transaksi mencurigakan miliaran rupiah di rekening Akil Mochtar.

Akil Mochtar sudah lama dipantau komisi antikorupsi, Akil menjadi target pengawasan lebih ketat sejak awal bulan lalu. Menerima informasi yang cukup sahih, pemimpin KPK menerbitkan surat perintah penyelidikan pada 4 September.

Petugas meningkatkan perhatian sejak dua pekan lalu, setelah mendeteksi komunikasi yang mengindikasikan rencana penyerahan uang untuk doktor hukum dari Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Objeknya adalah perkara sengketa hasil pemilihan kepala daerah Kabupaten Gunung Mas yang ditangani panel hakim dengan ketua Akil. Bupati Hambit Bintih, yang bertarung untuk periode kedua pemerintahannya, menang pemilihan. Tapi pesaingnya menggugat hasil pemilihan ini ke MK. Bupati inkumben itu merasa perlu mengamankan kemenangannya.

Sejumlah informasi membuat nama Chairun Nisa masuk radar pengawasan. Perempuan berkerudung anggota Dewan tiga periode ini dicurigai menjadi jalur tol menuju Akil dalam “mengurus” perkara sengketa. Hambit diduga menggunakan jalur ini demi tetap menduduki kursi bupatinya. KPK sudah mencium bakal ada gemerincing uang dalam pertemuan itu.

Petugas KPK, yang bersiaga sejak pagi, pada pukul 19.00 menyaksikan Chairun Nisa menggunakan Toyota Fortuner putih yang dikendarai suaminya menjemput Cornelis Nalau, teman Bupati Hambit, di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Mereka telah sepakat bersama-sama ke rumah dinas Akil. Berbincang sebentar, mereka melanjutkan perjalanan ke Widya Chandra. “Selama di mobil, tas berisi uang dipangku Cornelis,” ujar seorang petugas.

Mobil Chairun Nisa tiba di rumah Akil sekitar pukul 22.00. Tanpa melapor ke petugas penjaga, Bendahara Majelis Ulama Indonesia itu segera membuka pintu pagar. Hampir bersamaan, Akil, membuka pintu rumah menyambut tamu malam-malamnya.

Belasan petugas KPK merangsek dan mendatangi mereka. Beberapa penjaga hendak menolong Akil, tapi langsung mundur begitu tahu yang datang petugas KPK.

Akil ditangkap KPK di rumah dinasnya di kawasan Widya Candra, Jakarta Selatan pada Rabu malam lalu. Ia diduga menerima suap dalam perkara sengketa pemilihan kepala daerah Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan Lebak, Banten.

Kasus ini juga menjerat politikus Golkar, Chairun Nisa; Bupati Gunung Mas Hambit Bintih; adik Gubernur Banten Ratu Atut, Tubagus Chairi Wardhana alias Wawan; advokat Susi Tur Andayani; serta pengusaha asal Palangkaraya Cornelis Nalau. (tempo)

Ketua MK Ditangkap Tangan KPK

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 07/10/2013, in Berita, Video and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: