Malaikat pun Bisa Jadi Iblis bila Masuk ke Sistem Indonesia

Mahfud MD

Ternyata lebih dari 50% kepala daerah terlibat tindak pidana. Itu menunjukkan bahwa Pemilu gagal melahirkan pemimpin yang baik. Dominasi politik transaksional tidak hanya melahirkan pemimpin yang tidak baik, tetapi juga pemilih yang berprilaku tidak baik.

“Ternyata pemilu tidak menghasilkan pemimpin yang baik, yang mampu memberantas korupsi di lingkungannya, atau mampu bebas dari tindak pidana korupsi. Pak Gamawan (Mendagri) mengatakan lebih dari 50 persen atau 287 kepala daerah terlibat tindak pidana,” kata Mahfud MD di Tangerang, Senin lalu.

Setelah reformasi, demokrasi dalam pelaksanaan pemilu terus dibangun, meski ditemukan banyak kecurangan di berbagai level. Ironisnya, setiap tahun tingkat kecurangan tersebut justru meningkat. Bila pada 1999 kecurangan dilakukan per orangan atau kelompok tertentu, saat ini dilakukan secara sistemik.

Ia membuktikan itu saat menjabat Ketua MK periode 2008-2013. Ketika itu, MK membatalkan 72 kursi hasil pemilu karena kecurangan di tingkat pusat. Serta 60 kursi di tingkat daerah.

“Dari 72 kasus itu semua parpol ada wakil-wakilnya yang terlibat. Jadi dilakukan semua partai dan sistemik,” ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Ia menilai, kecurangan yang didominasi motif politik uang menjadi marak. Karena jabatan politik lebih banyak disetir oleh cukong yang cenderung berorientasi keuntungan finansial. Sehingga, alur pelaksanaan pemilu yang memungkinkan sengketa hasil pemilu bisa diusut kepada lembaga peradilan, juga digunakan untuk memuluskan keinginan pihak tertentu.

Akibatnya, politik transaksional tidak hanya terjadi di lingkup penyelenggara pemilu. Tetapi juga merembet hingga pada Mahkamah Konstitusi tertinggi sekali pun.

“Saat biaya politik semakin mahal, elite juga semakin jelek karena sistem yang dibangun mendorong ke arah korupsi. Malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia pun bisa jadi iblis juga,” ucap Mahfud.

Mahfud Usulkan Majelis Kehormatan MK Bersifat Permanen

Mahfud MD mengusulkan pembentukan majelis kehormatan dilakukan secara permanen untuk pengawasan terhadap hakim MK.

“Untuk melakukan pengawasan hakim MK, saya kira bisa dibentuk majelis kehormatan yang sifatnya permanen,” katanya dalam acara simposium internasional di Universitas Pelita Harapan Karawaci, Jakarta, Senin lalu.

Mahfud mengatakan, majelis kehormatan yang ada saat ini Ad Hoc atau sifatnya sementara, karena adanya kasus penangkapan Akil Mochtar. Majelis Kehormatan yang sifatnya permanen tersebut nantinya bisa diisi oleh para jaksa, polisi, hakim, ahli agama, dan akademisi.

Namun hal tersebut diserahkan kepada Presiden. “Itu adalah formula yang saya lihat tepat saat ini dalam pengawasan hakim MK,” ujarnya.

Terkait pengawasan hakim MK oleh Komisi Yudisial, Mahfud menuturkan hal tersebut tidak bisa dengan Perpu dan Undang-undang, karena ketentuan itu sudah dinyatakan inkonstitusional oleh MK pada tahun 2006.

Untuk itu, katanya, perlu dipenuhi dengan cara lain agar pengawasan hakim MK dilakukan dengan bagus dan tidak melanggar keputusan MK terdahulu.

“Saya kira Presiden bisa mengundang ahli untuk mencari formula yang tepat dalam pengawasan terhadap hakim MK,” katanya.

Dalam sejarahnya, MK memang harus diawasi sesuai pembahasan MPR terkait pembentukan KY, tapi karena MK menilai hal itu bahaya, maka hal itu dibatalkan MK.

Sebelumnya, Hakim Konstitusi Harjono terpilih sebagai ketua Majelis Kehormatan Hakim Mahkamah Konstitusi dalam kasus Akil Mochtar.

Majelis Kehormatan Hakim MK terdiri dari lima orang, yakni Harjono dari MK, Bagir Manan sebagai mantan kepala lembaga negara. Selain itu, Mahfud MD dari mantan hakim MK, Abas Said dari pimpinan Yudisial dan Hikmahanto Juwana dari Guru Besar hukum. (okezone)

Akil Mochtar Ditangkap KPK pukul.21:45

Ketua MK Akil Mochtar dan Ide Pemotongan Jari Koruptor

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 08/10/2013, in Berita, Video and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: