Jimly Asshiddiqqie Ragukan Data Keterlibatan Mahfud MD

Jimly Asshiddiqqie

Jimly Asshiddiqqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) meragukan data yang didapatnya melalui email terkait beberapa kasus yang diduga melibatkan Mahfud MD selama menjadi hakim MK. Setelah dia menelusuri email yang berisi data-data tentang keterlibatan Mahfud dan adiknya, ternyata data itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Bagi saya, semua email dan sms yang saya terima tentang hakim MK, tidak ada yang meyakinkan,” aku Jimly, Kamis lalu.

Ketua DKPP itu lantas menghimbau agar semua hakim MK dan mantan hakim MK tidak mudah tersulut atau terpancing informasi yang belum jelas sumbernya. Terlebih dengan adanya kasus yang menjerat Akil Mochtar, bisa menjadi jalan masuk bagi siapa saja untuk menyerang para hakim maupun mantan Ketua MK.

“Sekarang memang banyak orang yang ngorek-ngorek dan mencari-cari kesalahan para hakim MK, termasuk para mantan, untuk maksud dan kepentingannya masing-masing. Kita tidak boleh terpancing, apalagi dengan agenda adu domba,” tandas Jimly.

Jimly Asshiddiqie Klarifikasi Pernyataannya

Bak kalah dalam peperangan Jimly Asshiddiqie harus kembali menarik ucapannya yang dianggap menyerang Mahfud MD. Jimly, mengklarifikasi pernyataannya terkait Mahfud MD pernah terlibat berbagai kasus selama menjadi hakim konstitusi.

Sebelumnya Jimly mendapatkan surat elektronik (email) yang berisi data mengenai keterlibatan Mahfud dan adiknya dalam berbagai sengketa selama menjadi hakim konstitusi. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, data yang terdapat pada surat tersebut ternyata tidak benar.

“Jangan dipercaya itu, isi e-mail-nya ngawur semua,” kata Jimly seusai penandatanganan MoU di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis lalu.

Dia memang belum sempat membaca isi data pada surat elektronik tersebut secara detail. Karenanya, Jimly menyarankan berbagai pihak untuk berhati-hati kalau menerima e-mail dari pihak-pihak tertentu. Situasi yang menimpa Ketua MK nonaktif Akil Mochtar rentan dimanfaatkan berbagai pihak untuk melakukan hal-hal manipulatif.

Sebelumnya KPK menangkap Akil Mochtar dan Chairun Nisa, anggota DPR asal Fraksi Golkar, serta pengusaha Cornelis di kediaman Akil pada Rabu malam. Tak lama kemudian penyidik KPK menangkap Bupati Gunung Mas Hambit Bintih dan pihak swasta berinisial DH di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat.

Bersamaan dengan penangkapan itu KPK menyita sejumlah uang dollar Singapura dan dollar Amerika yang dalam rupiah senilai Rp 2,5 miliar-Rp 3 miliar. Diduga, Chairun Nisa dan Cornelis akan memberikan uang ini kepada Akil di kediamannya malam itu.

Pemberian uang itu diduga terkait dengan kepengurusan perkara sengketa pemilihan kepala daerah di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang diikuti Hambit Bintih selaku calon bupati petahana. Pemberian uang kepada Akil ini diduga merupakan yang kali pertama. Belum diketahui berapa total komitmen yang dijanjikan untuk Akil.

KPK memantau pergerakan Akil sejak beberapa hari lalu. KPK sebelumnya menerima informasi dari masyarakat yang menyebutkan bahwa ada rencana pemberian uang untuk Akil pada Senin. Namun, rupanya, pemberian uang itu bergeser waktunya menjadi Rabu malam. Kini KPK menetapkan Akil dan tiga orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan suap Pilkada Gunung Mas. (jpnn/tribun)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 11/10/2013, in Berita and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: