Mahfud MD – Perbantukan Saja Densus Antikorupsi di KPK

Mahfud MD tempatkan Densus Antikorupsi di KPK

Mohammad Mahfud MD menganggap satu-satunya lembaga khusus yang menangani praktek korupsi adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jadi wacana pembentukan Detasemen Khusus (Densus) Antikorupsi yang ikut membantu pemberantasan korupsi dinilai salah kaprah. 

“Menurut saya lembaga khusus antikorupsi ya KPK. Kalau nanti khusus-khusus lagi malah jadi umum,” ungkap Mahfud MD di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu lalu.

Mahfud menegaskan, jika Densus yang dimaksudkan adalah lembaga khusus, itu adalah KPK. Jika memang ada gagasan, dibentuk saja Densus Antikorupsi untuk membuat KPK semakin kuat.

“Jika memang ada gagasan Densus dibentuk, diperbantukan saja di KPK, biar KPK-nya semakin kuat,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Menurut Mahfud MD, wacana itu muncul kan dari celetukan secara spontan yang dikeluarkan saat uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri, Komisaris Jenderal Polisi Sutarman.

“Itu hanya celetukan politik yang spontan waktu uji kelayakan Pak Sutarman. Saya kira silakan saja diperdebatkan,” pungkas Mahfud.

Densus Anti-Korupsi untuk Kuatkan KPK

Wacana pembentukan Densus Anti-Korupsi Polri dari calon tunggal Kapolri Komjen Pol Sutarman menimbulkan pro dan kontra. Ide ini dikawatirkan akan berbenturan dengan tugas KPK.

Kendati begitu, Komjen Pol Sutarman yang sudah disetujui DPR menjadi Kapolri mengaku, Densus Anti Korupsi justru akan membantu KPK memberantas korupsi. Sutarman yakin Densus itu tidak berbenturan dengan KPK.

“Justru kita harus saling menguatkan. Kalau Polri-nya kuat, KPK bisa fokus di pencegahan,” kata Sutarman usai penetapannya sebagai Kapolri dalam sidang Paripurna DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa lalu.

Sutarman memastikan, terbentuknya Densus Anti Korupsi justru tidak ada kesan untuk mengkerdilkan KPK. “Tidak ada. Kita hanya ingin memberantas hulunya,” tegasnya.

Densus Anti-Korupsi pada dasarnya muncul dari usulan para anggota Komisi III DPR RI, saat dia menjalani fit and peoper test sebagai calon Kapolri. “Densus Anti-Korupsi itu kan muncul dalam diskusi dalam tanya jawab, bukan ide dari kita,” ujar Sutarman.

Dengan demikian, untuk meindaklanjuti Densus Anti-Korupsi sebagai salah satu lembaga Mabes Polri, perlu melibatkan Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

“Tapi penguatan anggota kita untuk penguatan profesionalisme itu yang harus segera kita lakukan. Yang terkait kelembagaan, tidak hanya institusi Polri sendiri, itu juga berkaitan denga men-PAN,” tukas Sutarman.

Upaya Pelemahan KPK?

Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani (Lima) Indonesia menduga ada sesuatu di balik wacana pembentukan Densus tersebut. Menurut Ray, Sutarman memiliki track record kurang harmonis dengan KPK. Karena itu dikhawatirkan, Densus Antikorupsi ini merupakan bagian strategi besar Sutarman terhadap KPK.

“Saya khawatir ini bagian dari strategi besar untuk melemahkan kinerja KPK,” kata Ray di Jakarta, Selasa lalu.

Ray juga khawatir, cara kerja Densus Antikorupsi sama halnya Densus 88 yang menurutnya kerap ‘main tembak’. Dikhawatirkan pula Densus Antikorupsi ini bisa memainkan pasal-pasal terhadap mereka yang ditangkap karena dugaan kasus korupsi.

“Yang saya khawatir nanti Densus Antikorupsi ini juga terlalu bersemangat mencari pasal-pasal yang membuat semua orang terkena kasus korupsi. Misalnya, kalau ada kasus lalu ditangkap polisi, atau polisi mengetahui orang tersebut akan ditangkap, diamankan terlebih dahulu oleh polisi,” ujarnya.

“Sehingga KPK tidak bisa lagi menangkap, karena sudah diambil Densus. Padahal nominalnya kecil, tapi kasus itu sangat strategis untuk pemberantasan korupsi,” tukas Ray.

Pengalihan Isu Korupsi di Tubuh Polri?

Ray Rangkuti menilai Densus Antikorupsi hanya upaya pengalihan isu sejumlah kasus korupsi di dalam tubuh Polri sendiri.

“Jangan mencoba mengalihkan kasus korupsi di luar dirinya dengan membentuk Densus Antikorupsi. itu kan sama dengan mengatakan korupsi tidak ada di polisi, tapi ada di luar,” kata Ray Rangkuti.

Menurut Ray, akan lebih baik Sutarman kelak mengoptimalkan pemberantasan korupsi di internal kepolisian. Sebab di tubuh Polri sejumlah kasus korupsi sampai saat ini belum terselesaikan maksimal.

Sebut saja, kasus rekening gendut polisi. Di mana yang terakhir adalah kasus Aiptu Labora Sitorus yang memiliki sejumlah rupiah yang fantastis dalam rekeningnya.

“Kalau dalam 5 tahun ini saja Pak Sutarman bisa bekerja untuk menyelesaikan setengah dari penyakit korupsi di kepolisian, itu sudah luar biasa. Bangsa Indonesia jelas-jelas akan berterimakasih kepadak Pak Sutarman,” tukas Ray. (liputan6)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 23/10/2013, in Berita and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: