Mahfud MD – Birokasi Berkolusi dengan Asing

Mahfud MD - pemerintah kolutp dengan pihak asing

Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, SH SU merasa prihatin terhadap nasib petani, Indonesia sebagai negara agraris, namun ketahanan pangan justru tergantung dari negara lain. Hal ini bisa terjadi, karena birokrasi kita kolutif,  berkerja sama dengan pihak asing.

“Petani Indonesia tidak boleh mati, juga tidak boleh hidup. Diberikan subsidi, lalu begitu kuat, kemudian dilarang. Harganya ditahan. Kalau petani maksa, pemerintah mendatangkan impor,” ungkap Mahfud MD dalam Sarasehan dan Seminar Nasional Perlindungan Hukum Bagi Petani, di Gedung Paska Sarjana Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, Minggu lalu.

Tidak heran jika komodistas pangan beras, kedelai, jagung, bahkan garam harus mengimpor dari negara lain.

“Kita punya sumber daya yang melimpah, para ahlinya juga banyak. Tetapi ketahanan pangan kita justru tergantung negara lain. Petani disuruh maju, begitu kuat dibunuh. Itu kebijakan yang ada sekarang,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Kondisi pertanian Indonesia sekarang ini, 1 % penduduk menguasai 70 % lahan, 1 % petani menguasai 40 % aset (nilai melekat). Dan pada posisi yang paling lemah adalah petani.

“Saya berikan satu contoh, harga susu dari peternak susu di Bogor 1 liternya Rp 2.700-3.500. Itu sudah berlangsung selama sepuluh tahun, tidak pernah naik. Padahal Inflasi naik, pertumbuhan ekonomi makro juga naik. Ternyata, penyebabnya harga ditentukan oleh pabrik. Peternak sapi tidak bisa maju. Sebab, apabila petani bersikeras, pabrik mengancam akan mengimpor,” cerita Mahfud.

Ada catatan menarik, Indonesia kaya ternak, sapi dan hewan lain. Tetapi konsumsi susunya masyarakat hanya 7 liter per orang per tahun. Karena kebanyakan masyarakat tidak mampu beli banyak.

Berbeda dengan di India. Di negara India tingkat konsumsi susunya 65 liter per orang per tahun. Indonesia hanya 10 persennya. Kemudian jika dibandingkan dengan Negara Amerika, tingkat konsumsinya susunya 70-80 liter/orang/tahun.

“Di Indonesia hanya di kota saja yang memiliki daya beli tinggi terhadap susu. Penyebabnya, karena birokrasi kita kolutif. Berkerjasama dengan asing. Kondisi seperti ini seharusnya ada intervensi dari pemerintah, perlu campur tangan pemimpin negara,” kata Mahfud MD.

Sarasehan dan Seminar Nasional perlindungan hukum bagi petani ini bertema “Menuju Kedaulatan Pangan dalam rangka Perataan Hari Tani Nasional dan Hari Pangan Sedunia.” Dihadiri tiga narasumber yaitu, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD SH SU, Prof. Dr. Sumarji SP MP dan Ir. Nuruddin. Serta sekitar 300 an petani yang tergabung dalam Aliansi Petani Indonesia (API) se ex Karesidenan Kediri. (beritajatim)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 25/10/2013, in Berita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: