Mahfud MD – Pilkada Langsung Merusak Masyarakat

Mahfud MD - Pilkada langsung rusak rakyar

Mohammad Mahfud MD menilai, pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung  lebih banyak mudaratnya ketimbang sisi positif. Sebab untuk meraih kemenangan para kontestan Pilkada menempuh berbagai kecurangan, termasuk menyuap masyarakat, sehingga tujuan demokrasi tidak tercapai.

“Pemilihan langsung kepala daerah lebih banyak mudaratnya. Hak demokrasi masyarakat diganti dengan uang, sehingga para kontestan harus menyediakan biaya politik yang besar. Ini merusak masyarakat dan sendi-sendi negara,” tegas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Menurut Mahfud MD, untuk meraih kemenangan dalam Pilkada, para calon incumbent menggunakan mesin birokrasi untuk kepentingan politik. Bahkan calon itu juga menggunakan wewenanganya untuk mengintimidasi bawahannya.

“Biasanya para calon incumbent mengancam para bawahannya. Yang tidak mendukung di Pilkada akan dimutasi. Ini kan tidak sehat dalam iklim birokrasi,” tambah Mahfud.

Oleh karena itu, Mahfud menyarankan agar pemilihan kepala daerah dikembalikan ke DPRD. Diakuinya, pemilihan di DPRD tidak lantas menjamin hilangnya biaya politik. Praktek suap tetap ada, namun biayanya tidak semahal dibandingkan dengan pemilihan langsung.

“Jumlah anggota DPRD kalau ditingkat II paling sekitar 45 orang. Untuk mengawasi praktek suap saat pemilihan bisa diawasi oleh wartawan, LSM atau aparat. Tapi kalau pemilihan langsung kan tidak mungkin mengawasi satu persatu para pemilih. Makanya pemilihan lewat DPRD masih lebih mudah untuk diawasi ketimbang pemilihan langsung,” ujarnya.

Namun pemilihan lewat DPRD ini hanya sekadar saran saja. Karena semua itu tergantung dari DPR yang membuat undang-undang.

“Ini hanya sekedar saran saja, mumpung saat ini sedang berlangsung pembahasan undang-undang terkait pemilihan kepala daerah,” ujar Mahfud MD.

Biaya Politik Tinggi Biangnya Kebusukan

Sepanjang problem partai politik tidak terselesaikan secara baik, jangan berharap partai politik mampu memunculkan pemimpin bangsa. Korupsi, dinasti politik, dan rebutan kekuasaan yang saat ini terjadi, semuanya bermula dari ketidak beresan partai politik.

“Korupsi, dinasti, dan rebutan kekuasaan itu terjadi terjadi karena pembiayaan partai yang sangat luar biasa besarnya. Apa pun bentuk peraturan dan perundang-perundangan yang dibuat dengan dalih untuk demokrasi, sepanjang partai politiknya gendeng, pasti tidak akan bisa mengatasi korupsi, dinasti dan rebutan kekuasaan itu,” kata Agun Gunandjar Sudarsa, politisi Partai Golkar, dalam Dialektika Demokrasi bertema “Politik Dinasti dan Demokrasi”, di press room DPR, Senayan Jakarta, Kamis lalu.

Demikian juga halnya dengan wacana Pilkada kabupaten dan kota yang diserahkan kembali ke DPRD. Menurut Ketua Komisi II DPR itu, juga tidak akan mengurangi korupsi, politik dinasti dan rebutan kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara. “Pemilihan Pilkada oleh DPRD pasti akan dimenangkan oleh pemilik finansial yang kuat,” tegas Agun.

Jadi masalahnya bukan pada Pilkada langsung atau oleh DPRD sebagaimana yang diungkap oleh Kementerian Dalam Negeri. “Partai politiknya yang harus dibenahi terlebih dahulu,” tegas dia.

Agun mengakui, salah satu penyebab dari tumbuh dan kembangnya korupsi dan politik dinasti atau kekerabatan juga bermula dari kondisi riil partai politik yang membutuhkan banyak biaya untuk kegiatannya.

“Satu-satunya sumber dana yang sangat mungkin adalah menjual suara partainya, bagi siapa saja yang bisa membayar termahal. Jadi dengan kondisi seperti ini, jangan harap partai politik akan melahirkan pemimpin,” ujar Agun.  (jpnn)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 27/10/2013, in Berita and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: