Gagasan Pemberantasan Korupsi Bakal Capres

Mahfud MD anti korupsi

Tindak pidana korupsi yang tinggi di Indonesia sungguh amat memprihatinkan. Kejahatan busuk yang luar biasa bejat itu telah merata terjadi di semua lini. Tidak hanya menjangkiti kalangan eksekutif dan legislatif saja, tetapi bahkan pejabat yudikatif pun ikutan korup.

Dampak buruk dari tindak pidana korupsi itu menarik tivi swasta untuk menghadirkan beberapa tokoh yang bakal menjadi calon presiden RI pada 2014, dalam forum diskusi Indonesia Baru. Mereka adalah Mahfud MD, Jusuf Kalla, Wiranto, Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Pramono Edhie Wibowo, Gita Wirjawan, Hidayat Nur Wahid, dan Rhoma Irama.

Tema yang diambil dalam diskusi itu antara lain adalah pemberantasan korupsi. Maksudnya untuk mencari tahu apa gagasan dan pemikiran para tokoh itu untuk mengatasi korupsi yang terus menggerogoti bangsa ini.

Menurut Jusuf Kalla, untuk memberangus dan menyelesaikan penyakit korupsi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui penyebab dan celah terjadinya korupsi. Baginya, penyebab korupsi adalah sistem yang buruk, penegakan hukum yang lemah, dan minimnya keteladanan dari para pemimpin.

“Kalau tidak tahu sebabnya, bagaimana mau menghentikan? Maka, perlu dibalik, harus ada teladan dari pemimpin, perbaiki sistem, dan hukum harus tegas,” kata mantan Wakil Presiden yang bakal dicapreskan oleh PKB itu.

Senada dengan Kalla, Wiranto calon presiden dari Partai Hanura, juga menyampaikan maraknya praktik korupsi disebabkan minimnya sosok pemimpin yang dapat diteladani. Akibatnya, publik tidak memiliki contoh pemimpin yang bersih dan tegas.

Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan yang mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat, beranggapan bahwa korupsi terjadi karena kekuasaan terbagi antara pemerintah pusat, DPR, dan pemerintah daerah.

Menurut Mohammad Mahfud MD, justru korupsi itu sudah marak terjadi sejak dari hulu, khususnya di sisi birokrasi dan DPR. Hal itu nampak jelas dari kewenangan DPR mengatur dan membahas anggaran sampai kesatuan ketiga.

“Dulu korupsi di hilir, setelah anggaran sudah ditetapkan. Tapi, sekarang (korupsi) sudah sejak penyusunannya, kongkalikong tender, dan lainnya,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Menanggapi itu, Hidayat Nur Wahid menyatakan, bahwa hak anggaran di parlemen sebenarnya bertujuan mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Ia membantah bahwa kewenangan tersebut dimanfaatkan DPR untuk mengatur tender dalam sebuah proyek.

“Ini tergantung bagaimana melihatnya, karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” kata Ketua Fraksi PKS itu.

Sedangkan Anies Baswedan menyampaikan, bahwa korupsi terjadi karena tiga hal, yakni kebutuhan, sifat serakah, dan sistem yang salah. Nah, untuk menekan terjadinya praktik korupsi, pemerintah harus mampu membuat regulasi yang membatasi hubungan politik dengan uang.

“Kenapa? Karena belum pernah ada dalam sejarah bangsa ini usaha memerangi korupsi sehebat kali ini,” pungkasnya.

Sementara bagi Rhoma, korupsi marak terjadi karena hukum dijadikan ajang bisnis. Hal itu terjadi karena penegakan hukum hanya sebatas formalitas yang sisi keadilannya samar terlihat.

“Istilahnya mega-lawyering, pandangan bahwa hukum adalah peluang bisnis. Ini peluang pada pelaku menjadikan hukum sebagai dagangan,” tandasnya.

Gagasan yang berbeda dilontarkan Dahlan Iskan. Menurut Menteri BUMN itu, korupsi dapat ditekan bila pejabat struktural di Indonesia dikurangi setengahnya, dan dialihkan menjadi pejabat fungsional.

“Saya sudah coba kurangi 20 persen dan saya yakin negara tidak akan mati,” tandas peserta Konvensi Capres Partai Demokrat itu. (kompas)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 31/10/2013, in Berita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: