Mahfud MD – Gus Dur Politisi dan Negarawan

Mahfud Md kenang Gus Dur

Mohammad Mahfud MD menyatakan, bahwa pemimpin bangsa tidak hanya sebagai seorang politisi, tetapi juga seorang negarawan. Sifat kepemimpinan yang demikian ditemukan dalam sosok presiden ke-empat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur.

”Sebagai seorang pemimpin, Gus Dur itu lengkap,” kata Mahfud MD dalam seminar bertema ”Role Model Pemimpin dan Guru Bangsa,” serta bedah buku “Gus Dur Ku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita,” karya Muhammad AS Hikam di Bentara Budaya, Jakarta, Sabtu lalu.

Mahfud, yang menjabat menteri pada era pemerintahan Gus Dur, menyatakan, buku yang ditulis Hikam memberikan gambaran mengenai sosok Gus Dur. Di dalam diri Gus Dur tampak jelas sikap sebagai seorang politisi dan negarawan. ”Politisi itu maunya menang-menangan, sementara negarawan maunya benar-benaran,” ujarnya.

Gus Dur menunjukkan sikap sebagai politisi, saat dia menghadapi desakan sejumlah elite politik pada tahun 2001 agar kabinet dirombak. Kabinet lalu dibentuk lagi dengan campur tangan sejumlah elite politik tersebut. ”Imbalannya”, Gus Dur tidak akan dijatuhkan dari jabatannya sebagai presiden.

”Sebagai politisi, Gus Dur tidak mau kalah karena menilai perombakan itu inkonstitusional,” kenang Mahfud, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Namun Gus Dur juga bisa tampil sebagai seorang negarawan. Hal itu ditunjukkan Gus Dur menjelang Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Saat itu, ada kelompok yang menjamin Gus Dur tidak akan diturunkan sebagai presiden, asalkan dia mau mengubah dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.

”Gus Dur menolak keras permintaan itu. Dia menyatakan lebih baik mundur daripada harus mengubah Pancasila sebagai dasar negara,” tutur Mahfud.
Mahfud MD kenang Gus Dur

Gus Dur sebagai bapak bangsa

TB Silalahi menyebut Gus Dur sebagai seorang tokoh nasional sekaligus negarawan. Meski bukan orang yang sempurna, Gus Dur masih tepat disebut sebagai bapak bangsa.

”Gus Dur adalah pemimpin yang melindungi semua golongan masyarakat, etnis, ras, dan agama,” katanya.

Hal yang sama dikatakan Chairul Tanjung, meski mengaku tidak terlalu mengenal Gus Dur. Apa yang dilakukan Gus Dur saat menjadi presiden amat bermanfaat bagi perjalanan bangsa Indonesia hingga sekarang.

”Saya percaya Tuhan memberi pemimpin sesuai dengan zamannya. Gus Dur diberi peran yang luar biasa dalam mengedepankan pluralisme dan multikulturalisme,” katanya.

Dulu Chairul Tanjung tidak pernah menyangka Gus Dur bakal menjadi Presiden Indonesia. Keraguan itu muncul dalam benaknya, karena Gus Dur pernah mengalami sakit keras. Dia pertama kali bertemu saat menjenguk Gus Dur di rumah sakit. Dengan latar belakang pendidikan medisnya, Chairul memprediksi Gus Dur sulit untuk sehat kembali.

“Saya bertemu Gus Dur sebelum dia jadi presiden waktu di rumah sakit. Pada waktu itu saya sangat miris. Saya memprediksi Gus Dur susah sehat dan jadi presiden. Ini ada tangan Tuhan yang luar biasa. Beliau jadi presiden,” ujar Chairul.

Chairul mendengar keterangan dari orang-orang yang pernah menjadi korban kebijakan Gus Dur. Oleh karena itu, dia sangat mengeapresiasi buku ‘Gusdur Ku, Gusdur Anda, Gusdur Kita’ yang ditulis Muhammad AS Hikam.

“Buku ini sangat informatif bagi saya untuk memahami Gusdur dengan pandangan berbeda. Saya anggap ini bisa memberikan pandangan berbeda,” ujar Alumni FKG-UI itu.

Mahfud MD kenang Gus Dur

Gus Dur Miliki Jiwa Negarawan

Muhammad AS Hikam sengaja menulis buku tentang Gus Dur, agar bangsa Indonesia belajar menghargai pemimpinnya. Dia mengumpulkan berbagai tulisan mengenai Gus Dur dan membuat perpustakaannya. ”Hal semacam ini dilakukan oleh bangsa-bangsa yang beradab,” ujarnya.

Mengutip pernyataan Franz Magnis-Suseno dalam kata pengantar bukunya, Hikam mengatakan, tidak banyak pemimpin di Indonesia yang memiliki jiwa kenegarawanan. Salah satu pemimpin yang memiliki jiwa kenegarawanan adalah Gus Dur.

Pemimpin ke depan, menurut Magnis-Suseno, harus memiliki visi, semangat, dan keberanian. Pemimpin juga harus memiliki integritas dan bisa memimpin secara demokratis.

”Jangan memilih pemimpin yang emosional, tetapi yang ikhlas. Jangan berharap pada orang yang suka mencari pencitraan, tetapi lihat apa yang dilakukannya. Kita perlu seorang pemimpin yang berani tidak populer,” ujar Magnis-Suseno.

Agum Gumelar menyatakan, bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang berjiwa besar. ”Mari kita ambil kelebihannya dan kita tinggalkan kekurangannya. Untuk pemimpin 2014, harus bisa mengambil apa yang baik dari pemimpin sebelumnya,” katanya.

Acara seminar dan bedah buku itu digelar oleh Ikatan Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Program Pendidikan Singkat Angkatan XVII, untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Hadir sebagai pembicara: Franz Magnis-Suseno Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Letnan Jenderal (Purn) TB Silalahi Menpan pada Kabinet Pembangunan VI, pengusaha Chairul Tanjung, dan Agum Gumelar Ketua Umum Ikatan Alumni Lemhannas. (kompas)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 03/11/2013, in Berita and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: