Mahfud MD – Di Indonesia Tak Ada Parpol Islam

Mahfud MD tidak ada partai Islam

Mohammad Mahfud MD, menilai wacana pembentukan koalisi poros tengah oleh partai-partai Islam untuk kedua kalinya bukanlah gagasan yang buruk. Namun dalam praktiknya gagasan itu tidak akan berjalan, karena sesungguhnya tidak ada partai Islam dan bukan Islam di Indonesia.

“Partai itu selalu begitu, ketika berpikir untuk melawan seseorang, dengan satu kekuatan mau bersatu. Tetapi ketika partai sudah menyebut, orang itu bubar sendiri, ha ha ha …” kata Mahfud usai berceramah di seminar ‘Capres Bicara Pajak Untuk Indonesia Yang Mandiri’ di Kampus UIN, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu lalu.

Menurut Mahfud MD, secara politik koalisi itu sulit terwujud, karena semuanya punya keinginan yang berbeda-beda tentang kepemimpinan. Ia mencontohkan, jika di partai Islam ada kesepakatan lalu menunjuk seseorang, pasti ada yang mental, tidak ikut lagi di koalisi.

“Dengan alasan pasti di sana (pihak lawan) ada yang jaga. Nanti kalau di sini kalah, di sana kan masih ada kita. Alasannya begitu,” ujar mantan politisi PKB itu.

Alasan kedua adalah secara ideologis. Saat ini Mahfud tidak melihat ada partai Islam dan bukan Islam di Indonesia. “Mana partai Islam? Semua sama. Kalau mau ukuran AD/ART semua tujuannya untuk mensejahterakan sesuai dengan Pancasila dan UUD 45,” kata mantan Ketua MK itu.

“Kalau bicara fakta politik, semua partai ada koruptornya, ada kyainya. Lalu mana yang Islam? Di PDIP itu kyainya banyak, di Golkar juga banyak, koruptornya juga ada. Di PPP, PKB, PKS kyainya banyak, koruptornya juga banyak. Pokoknya partai Pancasila saja,” lanjut Mahfud.

Mahfud MD mengaku pesimis atas koalisi yang kini didengung-dengungkan itu. Meskipun begitu dia mempersilakan mereka untuk mencobanya.

“Dicoba saja, tetapi itu tidak harus dipandang sebagai ideologi Islam. Itu hanya sebuah pengelompokan politik, di mana orang ingin berkontestasi memperebutkan kekuasaan saja. Tapi kalau mau dikatakan partai Islam, saya kira orang Islam sendiri juga keberatan,” tutur Mahfud.

Sebelumnya, Arwani Thomafi, Wasekjen PPP mengatakan, partainya ingin mengajak PAN, PKS, PKB, dan PBB untuk bergabung membentuk kekuatan politik baru, guna menyeimbangkan poros partai-partai besar PDIP, Golkar dan Demokrat.

Sedang Dimyati Natakusumah, Ketua DPP PPP menyatakan, wacana poros tengah dilontarkan untuk menyatukan partai-partai Islam yang terpecah. “Sebenarnya ‘kan partai-partai islam itu pecahan dari PPP. Jadi kami cuma ajak mereka kembali ke rumah besar umat Islam saja,” katanya.

PAN Bukan Partai Politik Islam

Partai Amanat Nasional (PAN) menyambut baik rencana PPP untuk membentuk kekuatan politik alternatif atau poros tengah yang terdiri dari partai-partai Islam. Namun PAN merasa undangan pembentukan poros tengah itu tak akan tepat ditujukan kepada mereka. Karena partainya adalah partai nasionalis.

“Kami bukan partai Islam,” kata Viva Yoga Mauladi, Ketua Badan Pemenangan Pemilu PAN , Selasa lalu.

Selain itu koalisi seharusnya dibicarakan setelah Pemilihan Legislatif 2014. Ini karena untuk mengusung calon presiden dan wakil presiden, masing-masing partai harus memenuhi ambang parlemen lebih dulu, yakni mencapai 20 persen perolehan suara nasional.

“Tidak mungkin mengusung capres kalau hasil pilegnya tak memenuhi ambang parlemen. Lagipula, calon presidennya siapa?” ujar Yoga.

PAN tak mau berkompromi soal capres, karena berdasarkan Rapat Kerja Nasional tahun 2011 mereka sudah bulat mengusung Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai capres. “Tidak ada calon alternatif. Kami tetap usung Pak Hatta,” kata dia.

PKB Bukan Partai Politik Islam

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak tertarik untuk bergabung dengan poros tengah, yang terdiri dari gabungan partai-partai Islam. Bahkan PKB ingin keluar dari citra sebagai partai Islam.

“PKB tidak bisa disebut partai Islam karena kami nasionalis religius. Pada dasarnya PKB tidak dibentuk untuk Islam saja,” kata Marwan Jafar, Ketua Fraksi PKB, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu lalu.

Sampai saat ini, belum ada komunikasi antar partai politik Islam untuk membicarakan koalisi. Meski sebenarnya mempersatukan partai Islam adalah ide yang baik. Tapi dia berpandangan, sulit untuk mempersatukan pemikiran yang sama.

“Masih jadi pertanyaan, figurnya nanti siapa, layak atau tidak,” kata Marwan.

Tapi menurut Marwan, dalam konteks saat ini tidak relevan jika mendikotomikan antara partai Islam dan partai nasionalis. “Tidak ada relevansi apapun. Dalam konteks politik aliran sebenarnya sudah selesai. Zamannya sudah berbeda,” tuturnya.

Menurut Malik Haramain, Wasekjen PKB, dalam situasi politik saat ini memang diharuskan untuk berkoalisi. Tapi, koalisi itu harus terbuka dengan partai aliran apapun.

“Tidak eksklusif, terkotak-kotak dan berdasarkan ideologis tertentu. Karena koalisi dibangun untuk kepentingan bersama, supaya pemerintah bisa bekerja efektif,” ujarnya.

Karena itu partainya tak tertarik untuk bergabung dengan kolisi partai Islam. “Kalau koalisi eksklusif begitu tidak akan banyak dapat sambutan positif. Kami buat politik yang terbuka, bukan eksklusif. Itu lama dan harusnya ditinggalkan,” ujarnya. (viva)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 14/11/2013, in Berita and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: