Mahfud MD – Wibawa MK Runtuh Diamuk Massa

Mahfud MD - wibawa MK runtuh

Mohammad Mahfud MD kaget mendengar ada penyerangan ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) yang dilakukan puluhan oleh pengunjung dalam sidang perkara Pemilu Kada Provinsi Maluku. Menurutnya, ini merupakan pertama kali sejak MK berdiri.

“Dulu, lima tahun saya memimpin MK, itu sidang MK selalu tertib kok,” kata Mahfud MD di Jakarta, Kamis lalu.

Mahfud MD seringkali mengusir pengunjung sidang yang berbuat gaduh di dalam ruang sidang, atau yang tidak memenuhi tata tertib persidangan di MK.

“Kalau ada yang gaduh, saya pelototi mereka diam, saya juga sering mengusir orang waktu itu,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Menurut Mahfud, kejadian tersebut bukan hanya ekspresi ketidakpuasan pihak tertentu yang sedang berperkara di lembaga pengawal konstitusi itu.

“Ini akibat MK sudah tidak dipercaya setelah penangkapan Akil (mantan Ketua MK) itu,” kata Mahfud.

Penangkapan mantan Ketua MK, Akil Mochtar yang kini menjadi tersangka dugaan kasus suap penanganan sengketa Pemilu Kada, memang telah menghancurkan citra lembaga peradilan konstitusi, bahkan merusak citra negara. Oleh karena itu, Mahfud menyarankan agar nantinya MK lebih memperketat keamanan selama proses persidangan.

“Bahkan kalau bisa di depan meja hakim harus ada polisi, untuk mengantisipasi kejadian seperti tadi,” kata Mahfud.

Selain itu, para hakim juga perlu terbuka dengan pemikiran di luar MK, terutama terkait rencana pembentukan pengawas hakim MK. Pasalnya, sikap MK yang sejauh ini memaksakan diri untuk membentuk Dewan Etik, terkesan lantaran tidak mau menerima pemikiran dari luar MK untuk melakukan pengawasan terhadap hakim konstitusi.

“Teori indepensi pengadilan bagi MK sekarang perlu digeser, karena terbukti sudah gagal. Jika selama ini tak mau diawasi KY atau pihak luar karena pihak-pihak tersebut juga berpekrara di MK itu betul. Tapi betul lainnya bahwa hakim MK juga harus berani diawasi pasca kejadian penangkapan Akil itu,” kata Mahfud.

sidang Mahkamah Konstitusi rusuh

Inilah Kronologi Kericuhan di Gedung MK

Kondisi sejumlah ruangan di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, benar-benar berantakan seusai diamuk sekelompok orang dalam sidang putusan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Kepala Daerah Maluku, Kamis lalu.

Sidang ini merupakan putusan atas pilkada ulang yang sebelumnya diperintahkan MK kepada KPU Maluku. Beberapa properti milik MK terlihat rusak, kursi berserakan, dan tiga layar LCD di lantai dua, di luar sidang pleno, tergeletak di lantai.

Adapun pihak yang beperkara atau pemohon dalam PHPU Maluku tersebut berjumlah empat orang. Mereka adalah pasangan nomor urut satu Abdullah Tuasikal – Hendrik Lewerissa, pasangan nomor dua Jacobus – F Puttilehalat, pasangan William B Noya – Adam Latuconsina, dan pasangan nomor urut empat Herman Adrian Koedoeboen – Daud Sangadji.

Keributan bermula ketika majelis hakim menolak permohonan pasangan nomor urut empat Herman Adrian Koedoeboen – Daud Sangadji. Massa yang tidak menerima putusan tersebut kemudian berteriak-teriak di luar ruangan sidang pleno di lantai dua.

Massa Tak Terkendali

Saat itu sidang masih terus berlangsung dan berlanjut untuk putusan permohonan Abdullah Tuasikal – Hendrik Lewerissa. Saat hakim Anwat Usman membacakan pertimbangan hakim, keadaan menjadi tidak terkendali.

Pendukung yang berada di luar dan menonton persidangan melalui layar LCD mengamuk. Mereka melempar aneka properti yang ada di dekat mereka ke ruang sidang.

Beberapa orang menerobos masuk ke ruang sidang pleno. Situasi di ruang sidang kacau. Orang berteriak-teriak. Aneka benda melayang. Majelis hakim lantas memutuskan untuk menunda dan meninggalkan ruangan sidang.

Massa semakin beringas. Beberapa dari mereka terlihat berdiri di atas meja sambil mengangkat tangan dan berteriak-teriak. Bahkan ada yang berusaha melempar hakim yang telah beranjak pergi.

Massa yang tidak terkontrol kemudian mengubrak-abrik ruang sidang pleno. Mereka membalikkan kursi dan merusak sejumlah properti di ruang sidang.

Puluhan aparat kepolisian masuk ke dalam ruang sidang. Polisi mengamankan pelaku pelemparan dan mereka yang diduga sebagai provokator keributan. Kegiatan di MK terhenti. Kemudian polisi memasang garis polisi berwarna kuning.  (antara/tribun)

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 15/11/2013, in Berita and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: