Mahfud MD – Perlu Langkah Radikal Berantas Korupsi

Mahfud MD berantas korupsi di birokrasi

Menurut Mohammad Mahfud MD, Indonesia butuh langkah-langkah yang lebih radikal agar korupsi bisa diberantas dari negeri ini. Langkah radikal itu antara lain pemimpin tertinggi harus terlibat langsung untuk mencegah dan menghentikan praktik korupsi yang kini tetap merajalela. Bukan sekadar mengharapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saja.

Mahfud MD menyatakan, korupsi tidak akan hilang dari negeri ini kalau upaya-upaya pencegahan tidak dilakukan. Dan itu seharusnya menjadi tugas para pemimpin di lingkungan birokrasi.

“Langkah radikalnya, pemimpin tertinggi harus terlibat langsung untuk mencegah dan menghentikan praktik korupsi yang kini tetap merajalela, bukan sekadar mengharapkan KPK. Kalau langkah-langkah seperti itu tidak dilakukan, mau bentuk 100 lembaga seperti KPK juga tidak akan hilang korupsi di negeri kita ini,” kata Mahfud di depan tokoh masyarakat, politikus, serta ribuan mahasiswa dan santri Pesantren Al Musaddadiyah, Garut, Jabar, Senin.

Rakyat Indonesia pantas prihatin pada saat Hari Anti Korupsi se dunia pada hari ini, kita harus menerima kenyataan pahit. Yakni peringkat Indonesia sebagai salah satu negara terkorup tidak beranjak dari posisi yang sama tahun lalu.

Survei yang dilakukan Transparency International menempatkan Indonesia pada urutan ke 114 dari 177 negara dengan skor 32 (skala 0-100). Ini berarti tidak lebih baik dari tahun lalu. Karena itu, momentum ini harus sekali lagi menjadi cambuk bagi pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah radikal dengan sistem yang dijalankan dengan sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi.

“Caranya mulai dari dalam, benahi birokrasi. Bersihkan birokrasi dengan tangan-tangan yang juga bersih, bukan mereka yang punya cacat masa lalu, sehingga tersandera, dan pada akhirnya tidak berani untuk bertindak tegas,” tegas mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Koruptor Harus Dimiskinkan

Hukuman bagi para koruptor yang paling cocok adalah memiskinkannya. Sebab hukuman mati di Indonesia belum menimbulkan efek jera terhadap para koruptor.

“Sah-sah saja apabila hakim menghukumkan badan, denda, penyitaan terhadap aset-aset yang di korupsikan tersebut,” kata Abdul Haris Semendawai, Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, hukuman mati tidak bisa diterapkan karena pada kejahatan seperti korupsi akan kembali terulang lagi. “Kenyataannya kan hukuman mati itu tidak ada efek jera, dimana masih terulang lagi korupsi itu,” katanya.

Abdul menjelaskan, hukuman mati apabila diterapkan maka ini sudah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Sebab, menurutnya hukuman yang lebih tepat bagi tersangka kasus korupsi ialah memiskinkan aset-aset yang dimilik para koruptor dengan jaminan setelah selesai masa hukumannya maka si koruptor tersebut tidak memiliki aset-aset kejahatan tersebut.

“Di internasional hukman mati ini sudah melanggar HAM, kemudian hukuman ini tidak dapat diterapkan. Sehingga hukuman mati itu tidak tepat untuk korupsi, yang tepat ialah memiskinkan koruptor, setelah mereka sudah menjalankan hukuman mereka tidak memiliki aset-aset harta lagi,” katanya.

Dengan memiskinkan para koruptor, diharapakan juga menghindari upaya praktik mafia-mafia hukum. “Jadi jelas, ini upaya menghindari mafia hukum, seperti penyitaan aset-aset. Mafia hukum hadir biasanya adaanya transaksi dengan sejumlah uang, diharapakan nanti para koruptor sadar,” tandasnya. (smn)

Video Review Kasus Century

Berita Terkait Mahfud MD dan Capres PKB

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 10/12/2013, in Berita, Video and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: