Mahfud MD – Pemimpin Harus Utamakan Kesejahteraan Rakyat

Mahfud MD Utamakan Kesejahteraan Rakyat

Mohammad  Mahfud MD meniliai, kesejahteraan suatu negara menjadi indikator martabat bangsa. Dan penegakan hukum tanpa pandang bulu merupakan kunci dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Indonesia kini butuh seorang pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya, bukan yang mengumpulkan kekayaan pribadi, keluarga dan kroninya. 

“Seperti yang pernah disampaikan Sayyidina Ali yang menggambarkan, bahwa kehancuran suatu negara disebabkan oleh pemerintahan yang dilaksanakan dengan tidak adil atau dzolim terhadap rakyatnya. Kalau rakyat tidak sejahtera, berarti kita gagal  menyelenggarakan negara,” kata Mahfud MD, dalam kuliah umum di Institut Agama Islam Darussalam, Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Minggu lalu.

Mahfud melanjutkan, kesejahteraan rakyat akan tercapai kalau penyelenggaraan negara dilaksanakan dengan adil, hanya semata-mata untuk memenuhi hak dan kebutuhan rakyatnya.

“Tidak seperti yang terjadi selama ini, martabat bangsa dilecehkan oleh negara asing dengan berbagai alasan, yang bermuara dari tidak terpenuhinya hak-hak rakyat dalam bernegara,” katan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Lebih lanjut Mahfud MD menjelaskan, bahwa hilangnya martabat bangsa Indonesia terlihat manakala negara lain melecehkan rakyat Indonesia. Misalnya, fenomena jual jasa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diobral dengan diskon 15 persen yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Kita dikenal pengirim TKI murahan, bahkan Malaysia pernah menghebohkan kita yang menawarkan jasa TKI dengan diskon seperti kayak barang di toko saja, tenaga orang didiskon,” kata mantan Menteri Pertahanan era Presiden KH Abdurrahman Wahid itu.

Tidak hanya itu, hilangnya martabat Indonesia juga lantaran semakin maraknya kasus korupsi yang telah meringkus sejumlah pejabat pemerintahan. Mulai dari tingkat Kabupaten atau Kota, Provinsi dan Pusat.

“Kasus (korupsi) ini telah merongrong harga diri bangsa kita, menjatuhkan martabat Negara,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia berharap harus ada pemimpin yang mampu bertindak tegas kepada siapapun yang melanggar hukum. Sebab, penegakan hukum tanpa pandang bulu merupakan kunci dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Kalau hukum ditegakkan dengan tegas, kepada siapapun yang bersalah, termasuk kepada para koruptor, maka kita akan mampu mensejahterakan rakyat. Dan ini menjadi tugas kita semua agar ikut serta mengembalikan martabat bangsa dengan terlebih dahulu mensejahterakan rakyat,” kata Mahfud MD. (rol)

Demi Independensi Mahfud Pernah Tolak Temui Kiai

Mohammad Mahfud MD mengaku, untuk menjaga independensi hakim konstitusi pernah menolak bertemu seorang kiai. Karena secara etika seorang hakim konstitusi tidak bisa menemui orang berperkara, atau wakil orang yang berperkara untuk menjaga independensi MK sebagai penegak konstitusi.

“Tahun 2011 Pimpinan Pondok Pesantren Raudatul Ulum Abuya Muhtadi Dimyati datang ke MK, dan menulis di buku tamu keperluannya bertemu saya terkait Pilkada Banten, tentu saja ditolak,” katanya di Pesantren Raudatul Ulum, Pandeglang, Banten, Senin.

Pengakuan Mahfud itu diceritakan saat mengunjungi KH Abuya Muhtadi Dimyati di Pesantren Raudatul Ulum, Kampung Cidahu, Desa Tanah Gara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten.

“Kejadian itu bulan September 2011, melaporkan terkait dugaan kecurangan di Pilkada Banten,” katanya.

Mahfud menilai, dalam menegakkan etika hakim dirinya harus mengesampingkan kepatuhan kepada para kiai. Ketika menjadi Ketua MK pernah menolak gugatan dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI periode 2009-2011, yang notabene adalah gurunya, terkait Undang-Undang penodaan agama.

“Saat itu Gus Dur bilang, kalau secara hukum tidak sesuai tolak saja. Saya menilai gugatan itu tidak sesuai hukum, dan akhirnya ditolak,” ungkapnya.

Menanggapi pernyataan Mahfud, KH Abuya Muhtadi pun mengatakan bahwa dirinya dulu sebenarnya ingin bersilaturahmi dengan Mahfud MD, sekaligus menceritakan permasalahan pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) Banten.

Namun Abuya memahami posisi Mahfud MD saat itu sebagai Ketua MK, meskipun dirinya ditolak bertemu pria kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur, itu.

“Saya memahami posisi Mahfud saat itu, meskipun saya harus menunggu di depan Gedung MK,” ujarnya.

Abuya pun menyambut positif langkah Mahfud MD menjadi bakal calon presiden, karena sosok yang mampu mengatasi masalah bangsa. Secara luas, ia menginginkan kader-kader Nahdatul Ulama (NU) menempati posisi strategis di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. (antara)

Berita terkait Mahfud MD Calon Presiden RI

Iklan

About Achmad Fauzi

Achmad Fauzi Asmuni, tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Posted on 06/01/2014, in Berita and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: