Jejak Langkah Mahfud MD

Initial MD di belakang nama Mohammad Mahfud ternyata bukan nama sembarangan, tapi terjadi karena ‘kecelakaan’. Rupanya nama Mohammad Mahfud merupakan nama favorite di Madura, sehingga banyak orang tua yang memberikan nama itu kepada anaknya.

Mohammad Mahfud adalah nama lengkapnya sejak lahir sampai lulus SD. Tetapi ketika masuk sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), di kelasnya ada lebih dari satu murid yang bernama Mohammad Mahfud. Maka wali kelasnya meminta diberi tanda A, B, atau C di belakang nama setiap Mahfud.

Semula namanya tercatat sebagai Mahfud B. Tapi beberapa hari kemudian wali kelasnya meminta lagi untuk memasang nama orang tuanya saja di belakang setiap Mahfud. Jadilah Mahfud ini memakai nama Mahfud Mahmodin sedangkan teman sekelasnya bernama Mahfud Musyaffa’, dsb.

Rupanya rangkaian nama Muhammad Mahfud Mahmodin kurang begitu enak didengar. Maka agar sedikit lebih keren, nama Mahmodin itu disingkat MD. Sehingga nama resminya menjadi Mohammad Mahfud MD. Namun waktu lulus tambahan MD itu lupa dihapus, dan tertulis di ijazah. Sehingga sampai sekarang initial MD itu nempel terus di namanya. Rupanya ‘kecelakaan’ kecil itu terus melekat sampai sekarang.

Ayah Sering Pindah Tugas

Mohammad Mahfud MD dilahirkan di Omben, Sampang (Madura) dari ayah bernama Mahmodin dan ibu bernama Siti Chadidjah pada tanggal 13 Mei 1957. Omben adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Sampang tempat Mahmodin bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Pemerintah Daerah.

Mahmodin, ayah Mahfud MD, berasal dari Pamekasan tepatnya dari Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan. Namun pekerjaannya sebagai pegawai negeri membuat keluarganya harus sering berpindah tempat tinggal, sesuai dengan pemindahan tempat tugas oleh pemerintah daerah setempat.

Anak-anaknya yang berjumlah tujuh dilahirkan di beberapa kecamatan atau kabupaten di wilayah Madura. Hampir semuanya berbeda. Mahfud lahir saat Mahmodin bertugas sebagai pegawai rendahan di kantor Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Ketika Mahfud berusia dua bulan, keluarga Mahmodin berpindah lagi ke daerah asalnya, yaitu Pamekasan,  dan ditempatkan di Kecamatan Waru. Di sanalah Mahfud memulai pendidikannya sampai usia 12 tahun.

Nama Mahmodin kemudian lebih dikenal dengan panggilan Pak Emmo, berasal suku kata kedua dari namanya, Mah-mo-din, yang ditambah awalan Em. Kemudian oleh pemerintah diberi nama baru di dalam beslit pengangkatannya sebagai pegawai negeri, dengan nama Emmo Prawiro Truno.

Mahfud adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Sekarang hampir semuanya bekerja sebagai pegawai negeri. Seperti guru, dosen, dan pegawai di kantor departemen di berbagai tempat. Ketiga kakaknya masing-masing bernama Dhaifah, Maihasanah, dan Zahratun. Sedangkan ketiga adiknya bernama Siti Hunainah, Achmad Subki, dan Siti Marwiyah.

Teladan Nabi Sulaiman As.

Keluarga Mahmodin adalah keluarga yang sangat sederhana dan lemah secara ekonomis. Pekerjaannya sebagai pegawai negeri golongan dua tidak menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai kehidupan keluarga sehari-hari. Tetapi dia mau bekerja keras agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik.

Dia selalu mengatakan kepada anak-anakanya, agar meniru Nabi Sulaiman As dalam memilih jalan hidup. Mahmodin selalu bercerita kepada anak-anaknya, bahwa saat masih sangat muda Nabi Sulaiman pernah ditawari atau disuruh memilih oleh Allah melalui malaikat.

Apakah Nabi Sulaiman As mau meminta harta, kedudukan, perempuan cantik, atau ilmu? Apa pun yang diminta oleh Nabi Sulaiman As akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Atas tawaran itu Nabi Sulaiman As kemudian menjatuhkan pilihan pada ilmu. Dia minta kepada Allah Swt. agar diberi ilmu yang banyak, termasuk ilmu bahasa makhluk-makhluk selain manusia.

Mahmodin menegaskan kepada anak-anaknya, bahwa pilihan Nabi Sulaiman As pada ilmu itu harus ditiru. Sebab dengan memilki ilmu yang banyak, kemudian Sulaiman dapat memiliki segalanya. Kedudukan sebagai raja diraihnya, kekayaan yang tak terhingga jumlahnya dia punya, dan isteri cantik seperti Ratu Balqis tunduk ke pangkuannya.

Jadi dalam mendidik anak-anaknya Mahmodin memegang falsafah Sulaiman, bahwa ilmu adalah kunci untuk mendapat segalanya. Karena teladannya adalah Sulaiman yang menjadi Nabi, tentu ilmu yang dikuasai adalah ilmu yang didasarkan pada nilai-nilai keimanan.

Dengan falsafah yang seperti itulah Mahmodin mau melakukan pekerjaan seberat apa pun, kalau itu diperlukan untuk mendapatkan biaya bagi anak-anaknya dalam mencari ilmu. Sebagai pegawai negeri, Mahmodin bisa bekerja sambil bertani tembakau.

Di juga bisa menjadi penyalur pupuk kepada petani-petani di berbagai desa tetangga, karena berharap mendapat upah. Bahkan kalau perlu bisa mencari pinjaman ke sana ke mari untuk membiayai anak-anaknya dalam mencari ilmu.

Mahfud melihat kegandrungan ayahnya pada ilmu itu sebagai kekuatan dalam membesarkan anak-anaknya, tapi sekaligus juga menjadi agak lucu. Ketika usia anak dan remaja pernah secara diam-diam Mahfud mengambil uang dari saku ayahnya.

Ayahnya bisa marah-marah sampai menakutkan. Tetapi ketika Mahfud mengaku bahwa uang yang diambilnya itu digunakan untuk membeli buku atau kitab (buku agama), ayahnya langsung berhenti marah.
Baginya tak apalah uang diambil anak secara diam-diam, kalau itu diperlukan untuk membeli buku atau kitab, yang berguna untuk mencari ilmu di sekolah atau di pondok pesantren.

Masa Pendidikan

Mahfud MDMohammad Mahfud MD memulai pendidikannya dari surau dan madrasah diniyyah yang ada di desa Waru, sebelah utara kota Pamekasan. Di tempat itulah Mahfud belajar agama Islam. Ketika memasuki usia tujuh tahun Mahfud dimasukkan ke Sekolah Dasar Negeri, dan sorenya belajar di Madrasah Ibtida’iyyah. Sedang belajar agama di surau pada malam hari, kadang sampai pagi.

Pada saat memasuki kelas V SD Mahfud dikirim ke pondok pesantren di desa Tagangser Laok untuk mendalami agama. Status muridnya pun dipindahkan ke SD Tagangser Laok yang dimiliki pondok pesantren bernama Somber Lagah itu.

Pondok itu adalah pondok pesantren salaf yang diasuh oleh Kyai Mardhiyyan, seorang kyai keluaran pondok pesantren Temporejo atau Temporan. Pondok pesantren itu sekarang diberi nama pondok pesantren Al Mardhiyyah, memakai nama pendirinya Kyai Mardhiyyah, yang wafat pada pertengahan tahun 1980-an.

Pada umumnya orang Madura merasa bangga kalau anaknya bisa menjadi guru ngaji, ustadz, kyai atau guru agama Islam. Itulah sebabnya setamat SD oleh orang tuanya Mahfud langsung dimasukkan ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Pamekasan, meskipun hasil ujiannya membuka peluang baginya untuk masuk di SMPN favorit.

Setelah lulus dari PGA 4 Tahun (1974), Mahfud memilih untuk masuk ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Sebuah sekolah kejuruan unggulan milik Departemen Agama di Yogyakarta yang merekrut lulusan terbaik dari PGA dan MTs seluruh Indonesia. Kemudian hari diubah menjadi Madrasah Aliyah Program Khusus ini.

Banyak lulusannya yang jadi tokoh nasional. Antara lain mantan menteri koperasi Zarkasih Noer, mantan menteri sekretaris negara Djohan Effendi, tokoh Majelis Ulama Amidhan, dan wakil ketua DPR Muhaimin Iskandar adalah lulusan dari PHIN.

Setamat dari PHIN (1978) Mahfud meneruskan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Dia juga kuliah din Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Sastra Arab. Konsentrasi studinya di bidang hukum terfokus pada studi bidang Hukum Tata Negara.

Pendidikan pasca sarjana ditempuhnya di program pasca sarjana S2 UGM dalam bidang studi Ilmu Politik. Sedang program pasca sarjana S3 (doktor) dalam bidang studi Ilmu Hukum Tata Negara, juga di UGM.

Mengingat kemampuan ekonomi orang tuanya yang pas-pasan, Mahfud mencari tambahan biaya pendidikan tingginya sesuai dengan kemampuannya. Dia aktif menulis di pers kampus dan koran-koran umum, seperti harian Kedaulatan Rakyat dan harian Masa Kini. Pers itu memberikan honorarium meskipun tidak besar. Mahfud juga mencari beasiswa untuk kelangsungan kuliahnya.

Ketika menempuh program S1 dia memperoleh beasiswa dari Rektor UII, beasiswa dari Yayasan Dharma Siswa Madura, dan beasiswa dari Yayasan Supersemar. Ketika menempuh pendidikan S2 di UGM dia mendapat beasiswa penuh dari UII sebagai perguruan tinggi yang mensponsori studinya.

Sedangkan pada saat menempuh pendidikan S3 di UGM dia mendapat beasiswa dari Yayasan Supersemar dan dari Tim Manajemen Program Doktor (TMPD) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk mencari beasiswa memang tidak terlalu sulit bagi Mahfud, sebab nilai hasil studinya tak pernah mengecewakan. Dia pernah dinobatkan dan diberi beasiswa penuh oleh Rektor UII, karena terpilih sebagai mahasiswa berprestasi terbaik untuk angkatannya di universitas yang didirikan tahun 1945 itu.

Mahfud lulus sebagai sarjana dari UII dengan predikat lulusan terbaik (cum laude). Mahfud pernah terpilih sebagai salah seorang Dosen Teladan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Dia juga pernah terpilih sebagai dosen yang paling produktif menulis ilmiah selama tiga tahun berturu-turut.

Mahasiswa Aktivis

Ketika mahasiswa Mahfud aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Seperti di Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa. Tetapi yang paling ditekuninya adalah Lembaga Pers Mahasiswa UII. Majalah mahasiswa Muhibbah yang pernah dipimpinnya adalah majalah kampus yang sangat kritis terhadap pemerintahan Orde Baru, sehingga pernah dibreidel sampai dua kali.

Pertama dibreidel oleh Pangkopkamtib Soedomo (tahun 1978). Kemudian ganti nama jadi Detente, dan dibreidel oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo pada tahun 1983. Sejak mahasiswa Mahfud sudah aktif menulis di berbagai media massa, terutama yang menyangkut soal-soal politik dan hukum.

Menjadi Dosen

Lulus dari Fakultas Hukum UII pada tahun 1983, Mahfud bekerja sebagai dosen di almamaternya dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kekecewaannya pada  hukum yang menurutnya selalu dikalahkan oleh keputusan-keputusan politik, membuat Mahfud ingin belajar Ilmu Politik.

Dia melihat bahwa hukum tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, karena selalu diintervensi oleh politik. Dia melihat bahwa energi politik selalu lebih kuat daripada energi hukum, sehingga dia ingin belajar ilmu politik.

Ketika ada kesempatan memasuki program S2, Mahfud pun masuk ke Program Pasca Sarjana di bidang Ilmu Politik (1985) di UGM. Dia diberi kuliah oleh dosen-dosen ilmu politik yang sudah terkenal, seperti Moeljarto Tjokrowinoto, Mohtar Mas’oed, Ichlasul Amal, Yahya Muhaimin, Amien Rais, dll.

Lulus dari Program S2 Ilmu Politik UGM Mahfud mengikuti pendidikan doktor (S3) dalam Ilmu Hukum Tata Negara di Program Pasca Sarjana UGM sampai lulus sebagai doktor (1993). Disertasi doktornya tentang politik hukum cukup fenomenal. Dan menjadi bahan bacaan pokok di program pasca sarjana bidang ketatanegraan di berbagai perguruan tinggi. Karena pendekatannya mengkombinasikan dua bidang ilmu, yaitu ilmu hukum dan ilmu politik.

Dalam sejarah pendidikan doktor di UGM, Mahfud tercatat sebagai peserta didik yang menyelesaikan studinya dengan cepat. Pendidikan S3 di UGM itu diselesaikannya hanya dalam waktu 2 tahun 8 bulan. Sampai saat itu (1993), untuk bidang studi Ilmu-ilmu Sosial di UGM hampir tidak ada yang dapat menyelesaikan studi secepat itu. Rata-rata pendidikan doktor baru dapat diselesaikan di atas 5 tahun.

Tentang kecepatannya menyelesaikan studi S3 itu, Mahfud mengatakan, bukan karena dirinya pandai atau memiliki keistimewaan tertentu. Melainkan karena ketekunan dan dukungan dari para promotornya, yaitu Prof. Moeljarto Tjokrowinoto, Prof. Maria SW Sumardjono, dan Prof. Affan Gaffar.

Selain tekun membaca dan menulis di semua tempat untuk keperluan disertasinya, ketiga promotor tersebut juga mengirim Mahfud ke Amerika Serikat, di Columbia University (New York) dan Northern Illinois University (DeKalb) untuk melakukan studi pustaka tentang politik dan hukum selama satu tahun.

Ketika melakukan studi  pustaka di Pusat Studi Asia, Columbia University, New York, Mahfud berkumpul dengan Artidjo Alkostar, senior dan mantan dosennya di Fakultas Hukum UII, yang kemudian menjadi hakim agung.

Sedangkan ketika menjadi peneliti akademik di Northen Illinois University, DeKalb, Mahfud berkumpul dengan Andi A Mallarangeng, yang kemudian menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan menjadi Menteri Urusan Pemuda dan Olahraga di masa pemerintahan SBY yang ke 2.

Andi A Mallarangeng saat itu menjadi Ketua Perhimpunan Muslim di wilayah. Dia memberi Mahfud satu kamar tanpa sewa, di sebuah rumah yang dijadikan masjid dan tempat berkumpulnya keluarga mahasiswa muslim dari berbagai negara.

Mahfud juga tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Hukum UII pertama yang meraih derajat doktor pada tahun 1993. Prestasinya itu mendahului bekas dosen dan senior-seniornya di UII. Bahkan tidak sedikit dari bekas dosen dan par seniornya yang kemudian berbalik menjadi mahasiswanya, atau dibimbing dalam menempuh pendidikan pasca sarjana.

Keluarga Mahfud MD

Mahfud MD menikahi Zaizatun Nihayati (Yatie), teman kuliahnya di Fakultas Hukum, pada tahun 1982. Yatie adalah perempuan kelahiran Jember, 18 Nopember 1959, yang lebih muda dua setengah tahun dari Mahfud. Dari pernikahannya itu Mahfud dan Yatie dikaruniai tiga orang anak.

Yang pertama adalah Muhammad Ikhwan Zein, lahir pada 15 Maret 1984. Pada tahun 2006 sudah lulus program S1 Fakultas Kedokteran UGM. Yang kedua adalah Vina Amalia, lahir 15 Juli 1989. Dan yang ketiga adalah Royhan Akbar, lahir 7 Pebruari 1991.

Zaizatun Nihayati yang juga berijazah Sarjana Hukum pernah bekerja sebagai guru. Tetapi ketika Mahfud diangkat menjadi menteri dan harus berpindah ke Jakarta, maka pekerjaannya sebagai guru ditinggalkan, sampai sekarang.

Organisasi dan Karya Tulis

Mohammad Mahfud MD aktif di berbagai organisasi yang terkait dengan latar belakang pendidikannya. Pernah menjadi Ketua Umum Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS) se Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (1996-1998). Wakil Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat BKS-PTIS (1998-2003). Ketua Pimpinan Pusat Asosiasi Dosen Hukum Tata Negara se Indonesia (1999-2006). Pernah memimpin LSM Parliament Watch Indonesia (ParWI) di DI Yogyakarta (1999-2000). Juga menjadi redaktur beberapa jurnal ilmiah, seperti Unisia, Jurnal Hukum, dan Arena Almamater.

Sebagai pakar dan pengamat Mahfud, dikenal sangat dekat dengan pers dan mudah dihubungi oleh wartawan. Sehingga PWI Yogyakarta (seksi Polkam) pernah menganugerahinya sebagai pengamat dan nara sumber paling simpatik pada tahun 2000, setelah tahun sebelumnya menjadi runner up pengamat paling simpatik.

Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai jurnal dan media massa lain. Seperti Prisma (LP3ES), Analisis (CSIS), Unisia (UII), Seni (ISI), Aljami’ah (IAIN Suka), Mimbar Hukum (UGM), Filsafat Pancasila (UGM) majalah Gatra, Tempo, Forum, D&R, harian Kompas, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Republika, Pikiran Rakyat, Bernas, Suara Merdeka, Rakyat Merdeka, dan lain-lain. Lebih dari 125 makalah telah ditulisnya untuk berbagai temu ilmiah.

Buku-buku yang pernah ditulisnya adalah Demokrasi dan Konstitusi (Rineka Cipta, 2001), Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia (Rineka Cipta, 2000), Pergulatan Politik dan Hukum (Gama Media – Ford Foundation, 1999), Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi (Gama Media – Ford Foundation, 1999), Amandemen Konstitusi dalam Rangka Reformasi Tata Negara (UII Press, 1999), Konfigurasi Politik dan Produk Hukum Zaman Hindia Belanda (UII Press, 1999), Politik Hukum di Indonesia (LP3ES, 1998), Hukum Kepegawaian Negara (Liberty, 1988), Pokok-pokok Hukum Administrasi (Liberty, 1987),  Setahun Bersama Gus Dur (LP3ES, 2003), Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi (LP3ES, 2006), dan beberapa buku lain yang masih ditulisnya.

Guru Besar Berusia Muda

Jabatan guru besar (Profesor) dalam Ilmu Politik Hukum, yang merupakan bagian dari studi Hukum Tata Negara, diperoleh Mahfud pada tanggal 1 November 1999 berdasarkan SK Mendinas No. 84193/A2.IV.1/KP/1999. Mahfud adalah guru besar Ilmu Politik Hukum yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Ilmu Politik Hukum adalah bagian khusus dari studi Hukum Tata Negara yang didalami Mahfud sejak tahun 1990, ketika dia menyiapkan disertasi doktornya.

Dalam meraih jabatan guru besar itu pun Mahfud dapat meraihnya dengan dua loncatan jabatan akademik. Tidak melalui delapan tangga jabatan satu-persatu. Oleh sebab itu tidak seperti umumnya dosen lain yang baru bisa menjadi profesor setelah usia tua, Mahfud meraih jabatan itu dalam usia muda. Dia baru melewati usianya yang ke 40.

Mula-mula Mahfud diangkat sebagai Asisten Ahli Madya pada tahun 1987. Setelah lulus doktor tahun 1993, langsung meraih jabatan Lektor Madya. Jabatan asisten ahli dan lektor muda dilewatinya. Dan setelah itu langsung meloncat ke guru besar (profesor), tanpa harus singgah dulu di jabatan Lektor, Lektor Kepala Madya, dan Lektor Kepala.

Lompatan jabatan seperti itu memang dimungkinkan sejak pertengahan tahun 1990-an bagi para dosen yang mampu menghimpun prestasi yang dapat dinilai dengan sejumlah kum (CCP, Comulative Credit Point). Kum itu meliputi kegiatan perkuliahan, penelitian dan karya tulis, pengabdian pada masyarakat, dan kum penunjang.

Sebagai mantan aktivis, Mahfud mampu meraih kum tinggi karena sangat aktif mengajar, banyak meneliti, menulis buku, menulis makalah untuk jurnal ilmiah atau untuk berbagai seminar, serta aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Sampai dengan tahun 1999 hanya Yusril Ihza Mahendra dan Mahfud MD yang tercatat memperoleh derajat guru besar termuda dalam bidang ilmu hukum. Setelah itu disusul oleh generasi-gerasi yang lebih muda, seperti Hikmahanto Juwana dan Satya Arinanto. Keduanya adalah dosen Fakultas Hukum UI.

Jabatan-jabatan Resmi

Sebelum itu Mahfud telah menjabat sebagai Pembantu Rektor I (1994-2000), Direktur Pasca Sarjana (1996-1999), Direktur Karyasiswa UII (1990-1993). Pernah juga menjadi Panelis dan Asesor pada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jabatan struktural di pemerintahan diraih Mahfud ketika pada awal tahun 2000 pemerintah mengangkatnya untuk menjadi Plt. Staf Ahli Menteri Negara Urusan Hak-hak Azasi Manusia (eselon IB). Kemudian diangkat lagi menjadi Deputi Menteri Negara Urusan HAM (eselon IA) yang membidangi produk legislasi HAM.

Dengan Keputusan Presiden RI No. 234/M Tahun 2000 Mahfud menjadi anggota kabinet, ketika diangkat menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Dan kemudian pada tahun 2001 diangkat menjadi Menteri Kehakiman dan HAM.

Diangkat Gus Dur

Gus Dur angkat Mahfud MDPengangkatan Mahfud MD sebagai Menteri oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hampir tak dapat dipercaya. Bukan saja oleh masyarakat, tetapi bahkan oleh Mahfud sendiri. Ketika itu Mahfud bukanlah seorang politisi yang terkenal. Dia hanya dikenal baik sebagai akademisi, terutama di berbagai Fakultas Hukum.

Bahkan Mahfud sendiri tidak tahu kalau Presiden Gus Dur benar-benar mengenalnya. Pasalnya Mahfud berkenalan secara langsung dengan Gus Dur hanyalah kira-kira 16 tahun sebelum pengangkatannya sebagai menteri, tepatnya pada tahun 1983. Dan dalam waktu 16 tahun terakhir sejak itu Mahfud tak pernah lagi ada kontak, apalagi bertemu muka dengan Gus Dur.

Kisahnya dimulai pada tahun 1983, ketika Mahfud lulus dari Fakultas Hukum UII dan mulai membantu Fakultasnya sebagai asisten dosen. Pada saat itu Mahfud mengundang Gus Dur beberapa kali ke kampus UII untuk memberikan kuliah umum, atau menjadi pemrasaran diskusi-diskusi.

Mahfud memang sangat mengagumi kecemerlangan otak dan langkah-langkah Gus Dur sebagai tokoh muda NU. Hampir semua tulisan Gus Dur, berita tentang Gus Dur, bahkan ulasan-ulasan orang tentang Gus Dur selalu diikutinya dengan cermat.

Kekaguman yang luar biasa itulah yagn mendorong Mahfud untuk mengundang Gus Dur ke UII. Apalagi UII dulu didirikan oleh tokoh-tokoh Islam lintas organisasi dan perseorangan, termasuk kakek dan ayah Gus  Dur yang tokoh NU. Yaitu KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

Kalau Gus Dur hadir ke UII Mahfud yang menjemput ke bandara, mengantarkan ke hotel, dan menemaninya makan. Tetapi sejak tahun 1983/1984 itu Mahfud tak pernah lagi berhubungan langsung dengan Gus Dur. Dan Mahfud mengira Gus Dur sudah lupa pada dirinya. Oleh sebab itu sangatlah mengejutkan ketika, setelah menjadi Presiden, tiba-tiba Gus Dur memanggilnya, dan memberinya jabatan Menteri Pertahanan di dalam kabinet yang dipimpinnya.

Rupanya Gus Dur bukan hanya ingat kepada Mahfud, tetapi juga cukup tahu perjalanan karier dan posisi Mahfud di kalangan akademisi, terutama untuk bidang hukum.

Mahfud meyakini bahwa Gus Dur adalah seorang pejuang demokrasi dan tokoh Islam inklusif dan sangat moderat, yang memang anti KKN dan sangat mandiri dalam menentukan keputusan. Buktinya dia mengangkat para menterinya dengan berani, dan tanpa kolusi atau persyaratan yang aneh-aneh, kecuali meminta janji untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.

Aktif Mengajar

Mahfud sudah melepas kedudukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi masih tetap menggunakan kewenangan akademiknya sebagai guru besar untuk tetap mengajar di berbagai perguruan tinggi. Sebab ketika memasuki jabatan-jabatan politik tertentu, seorang pegawai negeri memang harus melepas statusnya sebagai pegawai negeri. Tetapi kewenangannya untuk terus mengajar sebagai guru besar tetap diakui oleh negara. Ini sesuai dengan kebijakan, bahwa kedudukan sebagai pegawai negeri tidak dapat dirangkap dengan jabatan politik tertentu. Tetapi kewenangan  mengajar sebagai cermin keahlian yang telah diraihnya tidak dapat dicabut.

Sampai sekarang Mahfud masih aktif mengajar di berbagai program pasca sarjana seperti di UII (Yogyakarta), UGM (Yogyakarta), UI (Jakarta), Universitas Udayana (Denpasar), Universitas Jenderal Soedirman (Purwokero), Universitas Mataram (Mataram), UMS (Surakarta), Uniska (Kediri), Unisda (Lamongan), Unilak dan UIR (Pekanbaru). Dan menjadi oponen ahli serta penguji untuk program doktor di Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, IAIN Ar Raniry dan University of Malaya.

Untuk menjadi dosen tidak harus menjadi pegawai negeri. Banyak guru besar yang sudah tidak lagi menjadi pegawai negeri. Misalnya karena pensiun, tetapi masih aktif mengajar, karena kewenangan sebagai guru besar terus melekat.Itulah alasan Mahfud untuk terus mengajar.

Banyak yang bertanya, bagaimana bisa memenuhi tugas-tugas mengajar di banyak univesitas, padahal sehari-hari Mahfud adalah politisi yang anggota DPR. Mahfud menjelaskan, bahwa itu tidak sulit dilakukan. Kegiatan mengajar di universitas dilakukan hari Jum’at sampai Minggu. Sedangkan aktivitasnya sebagai anggota DPR dilakukan pada sidang-sidang hari Senin sampai Kamis sesuai dengan jadwal di DPR.

Sekali datang ke kampus biasanya mengajar sampai empat sesi dari pagi sampai malam. Sehingga setiap kampus dapat digilir untuk didatangi sebulan sekali, tanpa mengurangi jam yang wajib diisi. Selain itu, pada saat Mahfud tak datang ke kampus, karena jadwal mengajarnya sudah diropel, ganti para asistennya yang meneruskan untuk pendalaman-pendalaman materi.

Mahfud MD menikmati profesi gandanya sebagai akademisi dan politisi, bukan karena uang yang dapat diperolehnya. Melainkan karena keasyikan mempertemukan teori di kampus dengan kenyataan praktis di lapangan. Dari kedudukan sebagai akademisi dia bisa bergelut dengan teori-teori dan kajian-kajian bersama para mahasiswa. Tetapi dari kedudukan sebagai praktisi Mahfud dapat menggali dan mengenali tuntutan-tuntutan riil di lapangan.

Sumber: Disunting dan dikembangkan dari buku “Apa dan Siapa Sejumlah Alumni UGM“, LP3ES, Jakarta, 1999, dan dari buku memoar politik Mahfud MD, “Setahun Bersama Gus Dur“, LP3ES, Jakarta, 2003).

Iklan

Kasih koming dong :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: